alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Reruntuhan Bangunan Jadi Saksi Bisu Pameran Foto Ironi Kemerdekaan

Agung Bakti Sarasa
Reruntuhan Bangunan Jadi Saksi Bisu Pameran Foto Ironi Kemerdekaan
Pengunjung mengamati karya foto dalam Pemeran Foto Egalite di reruntuhan permukiman di kawasan Jalan Tamansari, Kota Bandung, Sabtu (17/8/2019). Foto/Istimewa

BANDUNG - Sejumlah fotografer yang tergabung dalam Sub-Unit Photo’s Speak menggelar pameran foto bertajuk "Egalite" di reruntuhan permukiman di kawasan Jalan Tamansari, Kota Bandung.

Sebanyak 113 karya foto yang dipajang bercerita beragam perspektif tentang kesetaraan manusia dan kemerdekaan dalam kehidupan sosial.

Salah satu panitia, Sutanto Nurhadi Permana mengatakan, ada 12 pameris yang ikut serta dalam pameran Egalite. Mereka adalah pegiat fotografi dari berbagai latar belakang yang berbeda.



Pria yang akrab disapa Sut ini menjelaskan, kesetaraan menjadi isu serius dan terus berkembang saat ini. Apalagi, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, konsepsi mengenai kesetaraan selalu berkontradiksi dalam kehidupan.

“Di ranah kemerdekaan, kesetaraan yang menjadi konsepsi awal munculnya kemerdekaan pun semakin bias. Ini yang mendasari kami mengapa menggelar pameran dengan tema Egalite," kata Sut dalam pernyataan tertulisnya yang diterima SINDOnews, Sabtu (17/8/2019) malam.

Para pameris berusaha merefleksikan pandangannya melalui medium foto cerita. Tujuannya, mengajak siapapun untuk memahami kembali sejauh mana makna kesetaraan diaplikasikan di lingkungan masyarakat, terutama dalam momen kemerdekaan.

“Apakah benar kita sudah setara? Apakah benar kita sudah merdeka? Itulah kira-kira yang melatarbelakangi adanya pameran ini. Namun, para pengunjung pun kami bebaskan menginterpretasikan makna kesetaraan dan kemerdekaan," ujar Sut.

Dari pantauan, ratusan foto cerita itu dipajang di tembok-tembok bangunan rumah warga Tamansari yang tak lagi utuh setelah digusur oleh Pemerintah Kota Bandung. Foto yang dicetak dengan ukuran bervariasi itu dilengkapi dengan narasi terkait pandangan dan cerita dari masing-masing pameris.

Salah satu karya foto milik Thoudy Badai Rifanbillah menceritakan kehidupan seorang veteran perang bernama Abah Ono yang hidup di dalam rumah kumuh berukuran 4x7 meter. Abah Ono harus berbagi ruangan bersama dua anak dan enam cucunya.

Namun, Abah Ono menolak untuk mengemis simpati. Merasa bangga pilihannya karena menjadi salah satu pelaku sejarah dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Lain lagi foto yang dipamerkan oleh Djuli Pamungkas. Dia menceritakan bahwa pembangunan tidak serta merta membawa kebahagiaan. Pasalnya, ada beberapa hal yang harus dikorbankan, mulai dari penggusuran rumah warga hingga tergerusnya ruang terbuka hijau.

Pembangunan yang terjadi di Kawasan Bandung Utara (KBU), daerah Dago Elos, dan permukiman di Taman Sari dipilih menjadi contoh dalam ironi yang terjadi.

Tak hanya di Kota Bandung, potret mengenai tajuk kesetaraan itu didapatkan di wilayah Jakarta. Jamal Ramadhan, pameris lainnya, menampilkan kisah perjuangan sebagian warga Ibu Kota dalam mendapatkan air bersih.

Lalu, Adi Maulana Ibrahim yang memilih untuk menampilkan para pencari suaka dari Timur Tengah dan Afrika yang hidup dalam ketidakpastian. Mereka meninggalkan negaranya karena merasa jengah dan takut atas konflik yang tidak berkesudahan.

Koordinator pameran, Fajri Ahmad NF mengatakan, pameran berlangsung mulai 17 hingga 31 Agustus 2019. Selain menampilkan foto, acara tersebut diisi pula dengan Diskusi Fotografi bersama jurnalis foto, Arif Hidayah,  Nobar film pendek bertajuk “Halo-halo Bandung" karya Nafsu Visual dan “Famulus” karya Flowfilmproject.

Dia menambahkan, lokasi pameran yang dipilih di reruntuhan permukiman Tamansari tak terlepas dari tema yang diusung. Menurutnya, kesetaraan adalah hak hidup yang harus didapatkan, termasuk hak untuk tumbuh berkembang di tanah kelahirannya.

"Bahwa di Kota Bandung ada warga yang berjuang untuk mendapatkan ruang yang telah mereka bangun, tetapi tergusur oleh proyek pembangunan kota," kata pria yang akrab disapa Ijot ini.



(abs)