alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Marisza Cardoba: Kenali Gejala dan Penyebab Penyakit Autoimun

Agus Warsudi
Marisza Cardoba: Kenali Gejala dan Penyebab Penyakit Autoimun
Direktur Marisza Cardoba Foundation Marisza Cardoba. Foto/SINDOnews/Agus Warsudi

BANDUNG - Penyakit autoimun sulit dideteksi atau didiagnosa karena mengikuti penyakit lain. Sehingga diagnosanya butuh proses dan biaya tak sedikit.

"Gejala yang dirasakan teman-teman dengan penyakit autoimun ini umumnya mudah sekali lelah. Mereka hanya bisa beraktivitas 4-6 jam sehari. Tidak seperti orang normal, 15-16 jam sehari masih kuat. Terus kemudian, ada keluhan kesehatan yang berulang. Meskipun sudah diobati, sembuh sebentar, nanti muncul lagi," kata Marisza ditemui seusai acara Weekend Market "A Full Day of Happiness with Autoimmune Survivor" di kawasan  Jalan Taman Cibeuying, Kota Bandung, Minggu 21 Juli 2019 malam.

Para pengidap autoimun ini, ujar dia, umumnya "dirumahkan" atau mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Sehingga harus dicarikan solusi bagaimanana mereka bisa tetap berdaya dan mengaktualisasikan diri.



Autoimun, tutur Marisza, sama kejamnya dengan kanker. Polanya pun sama, yaitu terjadi perusakan pada jaringan tubuh. Pada kanker, yang merusak jaringan tubuh manusia adalah sel mutan.

Sedangkan pada autoimun, yang merusak jaringan tubuh manusia, pelakunya sistem kekebalan tubuh manusia itu sendiri. Sistem kekebalan tubuh pengidap autoimun gagal mendefinisikan lawan atau kawan saat benda atau zat asing masuk ke tubuh.

"Yang dia tau, ada benda asing masuk nih. Dia gak tau mana yang harus ditembak karena radarnya terganggu. Sehingga dia (sistem kekebalan tubuh) menembak ke segala arah," jelas Marisza.

Pakar kesehatan, tutur dia, telah membagi penyakit autoimun ke dalam 150-an jenis. Penyakit ini menyerang semua umur dan jenis kelamin. Ada autoimun yang menyerang kulit, autoimun keping darah, autoimun darah merah.

Ternyata setelah didata di Amerika Serikat, 80-90% autoimun diidap oleh perempuan usia produktif dan anak-anak. Di Indonesia belum ada data jumlah pengidap autoimun. Tugas pendataan ada di Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

"Kami dari masyarakat hanya bisa mendorong. Misalnya begini, ada ibu yang sering berobat ke dokter, tapi penyakit berulang dan tidak sembuh-sembuh. Bisa jadi dia mengidap autoimun. Tapi dilemanya, orang-orang dari kalangan menengah ke bawah kan tidak mampu untuk menegakkan diagnosa awal, lalu bagiaman kita bisa tau mengidap autoimun atau bukan," ungkap Marisza.

Penyebab seseorang mengidap autoimun, jelas Marisza, pertama faktor genetik. Tapi, itu hanya menyumbang 25%, sedangkan 75% selebihnya adalah faktor lingkungan dan gaya hidup.

Misalnya, pola makan. Kebanyakan makan makanan yang mengandung terigu atau gluten dan turunannya seperti mi instan. Zat ini bisa menyebabkan mukosa usus manusia menjadi renggang jika dikonsumsi terus menerus.

Kemudian, kerap mengonsumsi lima P (perasa, pengaroma, penyedap, pewarna, dan pengawet). Jika paparan itu terus menerus masuk ke dalam tubuh, sejak masih kecil (anak-anak) hingga dewasa, mungkin juga secara genetik orang tuanya sudah terkena tapi tidak sadar, akhirnya dia terkena penyakit autoimun.

Makanan-makanan seperti itu kan sebenarnya tidak alami. Begitu masuk ke tubuh, sebenarnya tubuh itu pintar. Dia langsung mengeliminasi zat-zat racun yang masuk ke tubuh. Tapi karena paparannya berlebih, ungkap Marisza, lama-lama dia (sistem kekabalan tubuh) bingung, mana yang harus ditembak. Apalagi terjadi perenggangan di mukosa usus. Akhirnya sistem kekebalan tubuh nembak sekenanya saja.

"Karena penyakit ini belum ada obatnya, maka jangan masukin benda asing ke dalam tubuh. Terutama lewat makanan, karena 80% sistem imun itu berada di saluran pencernaan," pungkas Marisza.

Itu menjadi alasan logis kenapa teman-teman pengidap autoimun yang telah memperbaiki pola hidup dan makan, badannya menjadi lebih sehat, tanpa mengonsumsi obat-obatan.

"Lima pola hidup dan konsumsi makanan sehat. Terutama hindari gluten dan turunannya, juga makanan yang mengandung lima P, perasa, pengaroma, pewarna," tandas dia.

Marisza merupakan salah satu pengidap autoimun. Penyakit itu diidap Marisza sejak usia 4 tahun. Ketika itu, Marisza harus sering ke dokter dan mengonsumsi obat secara terus menerus. Namun penyakitnya tak kunjung sembuh. Akhirnya Marisza mencari tahu tentang penyakitnya dan dia bangkit untuk peduli terhadap sesama pengidap autoimun dengan mendirikan Marisza Cardoba Foundation.

"Saya terkena autoimun keping darah. Selama bertahun-tahun saya tergantung pada obat-obatan. Badan saya rusak. Namun sejak penyakit ini, saya ubah pola hidup dan makan. Setelah itu, saya kembali seperti orang normal. Bisa beraktivitas 15-16 jam sehari," kata Marisza.

Sementara itu, salah satu pembicara dalam kegiatan Weekend Market, Dr Prapti Utami MSi, praktisi herbal medis, mengatakan, kepada para peserta diberikan penjelasan tentang keunggulan manfaat rempah-rempah Indonesia yang ada di sekitar.

Seperti adas, bawang merah, bawang putih, yang hampir semuanya merupakan antiinflamasi dan analgetik atau painkiller. Sebab, pengidap autoimun itu adalah dekat dengan peradangan di seluruh tubuh dan rasa nyeri yang dirasakan tapi tak jelas penyebabnya apa.

Untuk mengatasi keluhan pengidap autoimun yang cepat merasa lemas, mereka bisa mengonsumsi kunyit asam atau jahe dengan pemanis alami.

"Rempah-rempah ini ketika pengidap autoimun mengerti akan manfaatnya, dia akan lebih semangat ketika memasak makanan atau membuat minuman. Dengan kunyit yang bersifat antiradang. Kunyit juga mengurangi rasa nyeri dan dapat mengeluarkan racun," ujar Prapti. (BACA JUGA: Peduli Autoimun, 3 Yayasan Sinergi Gelar Weekend Market di Bandung)



(awd)

loading...