alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Koleksi Foto dan Video Pak Harto-Bu Tien Bisa Dinikmati Publik di Tempat Ini

KORAN SINDO
Koleksi Foto dan Video Pak Harto-Bu Tien Bisa Dinikmati Publik di Tempat Ini
Bagi masyarakat yang ingin mengenang masa-masa pemerintahan Indonesia saat masih dipimpin Presiden Soeharto, datang saja ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

JAKARTA - Bagi masyarakat yang ingin mengenang masa-masa pemerintahan Indonesia saat masih dipimpin Presiden Soeharto, datang saja ke Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Dokumen lengkap terkait Soeharto, seperti album foto kegiatan Soeharto plus Ibu Tien Soeharto dan Proklamasi Integrasi Balibo yang menjadi tonggak bergabungnya Timor Timur ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NK RI) sudah tersedia.

Keberadaan dokumen lengkap selama kepemimpinan Soeharto sejak menjabat 12 Maret 1967 hingga 21 Mei 1998 diperoleh ANRI setelah keluarga Presiden ke-2 RI tersebut menyerahkan kepada ANRI, kemarin. Tambahan khazanah arsip statis tentang Soeharto tersebut diserahkan langsung keluarga Cendana, dalam hal ini diwakili Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) kepada Plt Kepala ANRI Sumrahyadi di Ruang Serbaguna Noerhadi Magetsari, Gedung C ANRI.



Khazanah arsip yang diserahkan bukan hanya album foto dan dokumen Proklamasi Integrasi Balibo. Tercatat dokumen yang diserahkan terdiri dari 19 roll microfilm berisi pidato Presiden Soeharto ber kut dengan daftarnya, 10 roll microfilm pidato Ibu Tien Soeharto beserta daftar dan naskah pidatonya, serta 10 roll microfilm kumpulan risalah sidang kabinet periode 1967-1998 beserta daftarnya.

Adapun album foto dimaksud terdiri dari 91 lembar foto yang merekam kegiatan Presiden Soeharto berikut compact disc -nya. Selain menyerahkan arsip ke ANRI, pihak keluarga juga meminjamkan satu unit alat baca microfilm, microreader kepada ANRI.

Penyerahan arsip statis oleh pihak keluarga Presiden Soeharto juga merupakan bagian dari pelaksanaan amanat Pasal 88 ayat (6) Peraturan Pemerintah Nomor 28/2012 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43/2009 tentang Kearsipan. Arsip tersebut diselamatkan dan dilestarikan oleh ANRI yang nanti menjadi identitas dan jati diri serta memori kolektif bangsa.

Arsip ini menjadi aset nasional yang bisa dimanfaatkan untuk kepentingan pemerintahan, pembangunan, penelitian, pembelajaran, dan pengembangan ilmu pengetahuan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Mbak Tutut yang datang ditemani adiknya, Bambang Trihatmodjo, berharap dokumen bisa bermanfaat bagi bangsa ini. Dia menyebut, bangsa yang mengelola jejak langkah peninggalan peradabannya cenderung menjadi bangsa besar serta unggul dibandingkan dengan bangsa lain. "Sejumlah dokumen Bapak (Presiden Soeharto) yang telah kami serahkan ke negara setidaknya bisa menjadi bagian penting dari sejarah. Mudah-mudahan dokumen itu menjadi salah satu acuan masyarakat dalam menghadapi realitas sosial budaya yang kompleks seperti saat ini," kata Mbak Tutut.

Dia lantas mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak alpa sejarah bangsanya agar bisa mengambil unsur positif dari sejarah masa lalu. Selanjutnya bersama-sama merajut kembali identitas kebangsaan yang luhur dengan basis kebangsaan multikultur. "Setiap bangsa harus menyadari jati dirinya. Mengenal dan tahu sejarah bangsanya. Dengan sadar sejarah sebuah bangsa bisa menentukan dengan pasti dan yakin ke mana bangsa tersebut menentukan titik tujuan perjuangan ke depan," katanya.

Mbak Tutut menuturkan, sadar sejarah membuat sebuah bangsa tahu adab. Mampu meletakkan seseorang pada 'maqam' atau tempatnya yang tepat. "Tidak ada bangsa dan negara yang lepas dari sejarahnya. Namun, kemanusiaan harus menjadi prasyarat bagi kita untuk menciptakan peradaban lebih manusiawi.
Menempatkan para pemimpinnya ke dalam historisitas kemanusiaan tertinggi sebagai khalifah. Selanjutnya dapat menerima kekurangannya sebagai hal manusiawi,"kata Mbak Tutut.

Membangun sumber daya manusia (SDM) dengan kebudayaan luhur, kata Mbak Tutut, harus menjadi landasan penting bagi kemajuan Indonesia. Kebudayaan harus terimplementasi dengan menerapkan kerangka nilai kebangsaan dan adab. "Kalau kesopanan kita jaga, batin suci, hati bersih, niat bagus, tidak hendak berkicuh dengan sesama, maka Insya Allah akan baik buahnya bagi segenap masyarakat," katanya.

Plt Kepala ANRI Sumrahyadi bersyukur ANRI mendapatkan dokumen penting dari Soeharto. Menurut dia, khazanah arsip yang diserahkan pihak keluarga Presiden Soeharto bisa menjadi bagian dari arsip kepresidenan. ANRI dalam beberapa tahun terakhir sedang gencar melaksanakan program penyelamatan arsip kepresidenan. "ANRI mengucapkan terima kasih atas penyerahan arsip ini. Semoga arsip tersebut bisa bermanfaat bagi masyarakat luas. Arsip kepresidenan nanti dapat menjadi sarana pembelajaran bagi masyarakat untuk mengenal dan mengetahui sosok serta kebijakan para Presiden Indonesia dari masa ke masa," ujar dia.

Dia menuturkan, dokumen yang diserahkan berasal dari berbagai aktivitas kegiatan Soeharto selama 30 tahun memimpin. Pengumpulan dilakukan secara kronologis. Hanya saja, bagaimana metode pengumpulannya, Sumrahyadi mengaku tidak mengetahui. Namun, dipastikan pengumpulan dilakukan pihak Cendana.

"Jadi metode yang membantu keluarga setiap dari pidato asli ke kantor, kopi ke rumah, kopi kita kumpulkan. Justru dari kopi, kita bisa lihat hasil yang sangat runut. Itu sebetulnya hasil pengumpulan keluarga bapak sendiri, ada stafnya 1-2 orang yang mengumpulkan pasti," katanya.

Saat ini arsip mengenai peristiwa penting Presiden Soeharto yang sudah bisa diakses masyarakat terdiri dari arsip tekstual, arsip foto, dan arsip video. Arsip tekstual berjumlah 383 nomor, arsip foto berjumlah 633 nomor, serta arsip film dan video berjumlah 255 nomor.

Untuk mengakses arsip itu, masyarakat dapat menggunakan sarana temu balik arsip yang tersedia di Ruang Baca ANRI. Penyerahan dokumen Soeharto kemarin juga diwarnai dengan pameran foto-foto kegiatan Soeharto, termasuk foto kegiatan bersama Ibu Tien pada berbagai kesempatan kunjungan.

Beberapa foto menjadi fokus para tamu undangan, seperti foto saat Soeharto memanen bawang di Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah, dan foto rangkaian kunjungan Pak Harto yang didampingi Ibu Tien di Lembaga Pusat Penelitian Pertanian di Bogor saat berada di perkebunan kopi. Abdul Rochim



(zik)