alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Musim Liburan Lembang Macet, Penghasilan Sopir Angkot Merosot

Adi Haryanto
Musim Liburan Lembang Macet, Penghasilan Sopir Angkot Merosot
Salah satu angkot di Lembang saat menunggu penumpang. Para sopir angkot mengeluh macetnya Lembang saat musim liburan. Foto/SINDOnews/Adi Haryanto

BANDUNG BARAT - Kemacetan di wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), seakan menjadi hal yang tidak bisa dipisahkan ketika musim liburan tiba.

Ini dikarenakan sebagai surganya wisata, banyak wisatawan dari luar daerah yang menjadikan Lembang sebagai destinasi yang tidak boleh mereka lewatkan saat berlibur ke Bandung.

Imbas dari kemacetan tersebut tentu ada pihak-pihak yang diuntungkan, tapi di sisi lain ada juga yang merasakan nestapa dari kondisi tersebut.



Bagi pengelola objek wisata, semakin banyak wisatawan yang datang tentu akan menguntungkan, karena pundi-pundi pemasukan terus bertambah.

Tapi bagi sopir angkutan umum (angkot), kemacetan adalah hal yang sangat menjengkelkan. Selain harus mengeluarkan biaya bahan bakar lebih besar, kemacetan pun membuat penumpang jadi berkurang.

"Kalau jalanan macet parah seperti libur lebaran kemarin penumpang yang naik menurun drastis. Penumpang lebih memilih alternatif alat transportasi seperti ojeg yang bisa menghindari macet," ungkap Ketua Persatuan Pengemudi Lembang Cisarua (PPLC), Denden Susanto kepada wartawan, Rabu (12/6/2019).

Dia menyebutkan, jika sedang musim liburan penghasilan sopir angkot justru sangat minim. Penyebabnya adalah kemacetan di jalur-jalur utama Lembang sehingga sopir paling hanya bisa narik angkot paling 1-2 ritase.

Penghasilan yang didapat juga berkurang jadi sekitar Rp60.000 sampai Rp100.000 dalam sehari. Bahkan ada sebagian dari sopir yang memilih tidak beroperasi saat macet karena menganggap pendapatan yang dibawa pulang tidak sebanding dengan waktu yang dihabiskan di jalanan.

Menurutnya, beban sopir di Lembang saat musim liburan semakin berat, karena pengeluaran biaya bahan bakar kendaraan menjadi bertambah akibat mobil 'panas' di jalan karena macet.

Penumpang pun tidak bisa diandalkan sebab yang banyak berseliweran adalah rombongan keluarga atau wisatawan yang membawa mobil pribadi sendiri. Sementara selama ini sopir angkot lebih banyak mengandalkan penumpang dari ibu rumah tangga dan anak sekolah.

"Saat musim liburan, anak-anak sekolah juga kan libur. Jadi pendapatan sopir sudah pasti berkurang dan ditambah jalanan macet yang membuat pengeluaran BBM bertambah," keluhnya.

Sopir lainnya, Cucu Supriatna menyebutkan, sejak menjamurnya tempat wisata di Lembang penghasilan sopir angkot ikut terdampak. Pasalnya kebanyakan wisatawan membawa kendaraan pribadi, mobil rental, atau menyewa bus.

Bagi pengelola wisata bisa jadi mereka panen penghasilan saat libur lebaran, tapi bagi sopir angkot sebaliknya. Dia berharap pemerintah mencarikan solusi agar kemacetan yang sering terjadi bisa teratasi. Serta kehadiran wisatawan di Lembang juga diharapkan bisa mendongkrak pendapatan para sopir.

"Kalau kami mengusulkan pemerintah membangun terminal bus. Jadi bus-bus pariwisata parkir di terminal, nah dari terminal wisatawan diangkut pakai angkot ke tempat wisata. Jadi kami (sopir) juga merasakan manfaat dari membludaknya wisatawan ke Lembang," tuturnya.



(awd)