alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Mahasiswa UPI Ciptakan Dispenser dan Timbangan bagi Disabilitas

Arif Budianto
Mahasiswa UPI Ciptakan Dispenser dan Timbangan bagi Disabilitas
Mahasiwa UKM Kompor UPI saat menunjukkan dispenser dan timbangan bicara untuk penyandang disabilitas. Foto/SINDOnews/Arif Budianto

BANDUNG - Kekurangan kemampuan fisik penyandang disabilitas, terkadang membuat mereka sulit melakukan aktivitas harian.

Misalnya dalam menyeduh kopi, mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk memasak air dan menakarnya. Begitupun aktivitas lain yang terkadang hanya bisa dibaca, seperti timbangan.

Latar belakangan itu juga yang memotivasi mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung yang tergabung dalam Komunitas Mahasiswa Penggemar Otomasi dan Robotika (Kompor) menciptakan dispenser dan timbangan bagi penyandang disabilitas, terutama tuna grahita.



“Selama ini mereka kesulitan dalam menakar air ketika membuat minuman seperti teh atau kopi. Terkadang, mereka harus menyelupkan tangannya ke gelas air panas. Pertimbangan itu yang melatarbelakangi kami membuat alat khusus untuk disabilitas,” kata anggota Kompor Wahyudin di Kampus UPI, Jalan Setiabudi, Kota Bandung.

Pada alat yang dinamakan Dispenser Berbicara, mahasiwa UPI membuat takaran khusus yang disesuaikan volume gelas. Penyandang disabilitas tinggal memilih volume air untuk air panas atau dingin yang terhubung dengan tombol huruf broille.

Setelah ditekan, Dispenser Bicara akan mengalirkan air sesuai permintaan. Di saat bersamaan, juga muncul suara yang memberitahukan besaran volume air. “Dispenser ini akan memisahkan mereka menuangkan air sesuai takaran,” ujar dia.

Sistem dispenser juga tidak berbeda jauh dengan Timbangan Berbicara. Tuna grahita akan mengetahui volume barang yang ditimbang, dari suara yang muncul dari timbangan tersebut. Kendati bentuknya mini, timbangan tersebut akan sangat membantu penyandang disabilitas yang berdagang.

Ketua UKM Kompor Bahha Hamzah mengatakan, proses ide hingga menjadi temuan dalam bentuk produk jadi memerlukan waktu sekitar 1,5 bulan. Dimulai dari riset langsung ke beberapa sekolah luar biasa (SLB). Kemudian dilanjutkan proses pembuatan dan revisi produk.

“Proses perencanaan hingga pembuatan tidak terlalu lama, hanya butuh waktu sekitar 1,5 bulan. Saat ini, dispenser dan timbangan ini sudah menjadi produk jadi yang siap digunakan dan dibuat dalam jumlah banyak,” tutur Bahha.

Dalam proses pembuatannya, tidak ada kendala berarti. UKM Kompor, kata dia, terdiri atas gabungan mahasiwa dari berbagai disiplin ilmu, seperti elektro. Sehingga dalam proses pembuatan, tidak ada kendala berarti.

Kendala yang ditemui, kata dia, hanya soal pembiayaan. Walaupun dana yang dibutuhkan untuk membuat satu dispenser sekitar Rp700.000, namun dama itu didapat dari uang patungan. Tidak ada sumbangan dana dari Kemenristek Dikti atau instalasi lainnya.

“Kami berencana akan membuat pilihan dispenser dan timbangan ini, untuk dihibahkan ke SLB di Jabar. Walaupun, kami malah terkendala pembiayaan. Kami berharap ada lembaga atau instansi yang mau mendanai atau bekerja sama untuk hibah alat ini,” beber dia.

Dosen Pembimbing UKM Kompor Wawan Purnama berharap, penemuan mahasiwa UPI ini bisa memberi manfaat bagi penyandang disabilitas. Terutama bagi sekolah luar biasa (SLB). Produk ini diharapkan kedepannya bisa dimanfaatkan masyarakat luas.

“Kami berharap, temuan ini bisa merangsang mahasiswa lain untuk menemukan hasil riset, produk, atau penelitian lainnya. Budaya itu yang terus kami digalakkan di UPI,” kata Wawan.

Dalam waktu dekat, temuan tersebut akan didaftarkan untuk mendapatkan hak paten. Sehingga kekayaan intelektual ini bisa dijaga.



(awd)