alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Ironis, Hak Siswa SD Cimerang Jadi Korban Proyek Tak Jelas

Adi Haryanto
Ironis, Hak Siswa SD Cimerang Jadi Korban Proyek Tak Jelas
Tiga siswa SD Cimerang berjalan di depan ruang kelas mereka yang telanjur dibongkar dan kini terbengkalai akibat ketidakjelasan anggaran. Foto/SINDOnews/Adi Haryanto

BANDUNG BARAT - Ratusan siswa SD Cimerang 1, 2, dan 3, serta SD Ciampel di Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) harus merasakan dampak dari proyek tak jelas.

Angan-angan untuk mendapatkan ruang kelas baru yang lebih layak harus dibuang jauh-jauh, sementara hak siswa untuk belajar nyaman terusik karena ruang kelas telah telanjur dibongkar.

Rencana pembangunan total 10 ruang kelas di empat SD tersebut dengan alokasi anggaran per kelas Rp180 juta, kini mulai menunjukkan gejala tidak beres.



Sebab, jika mengacu target 50 hari kerja sejak seluruh ruang kelas itu dibongkar pada akhir Desember 2018, semestinya pembangunan sudah selesai. Tapi apa mau dikata, hingga kini seluruh ruang kelas itu belum satu pun yang selesai dibangun 100%.

Pengamatan di lokasi menunjukkan pemandangan cukup menyedihkan. Ruang kelas yang awalnya berdiri kokoh berubah menjadi seonggok material bangunan kusam dan kumuh.

Ironisnya, sejumlah ruang kelas yang telah dibongkar itu kini seperti dibiarkan terbengkali. Tidak terlihat lagi aktivitas pekerja. Informasi yang beredar, pemborong proyek sekolah ini kabur karena tak memiliki dana sehingga pembayaran biaya pembangunan jadi tidak jelas.

Menurut salah seorang pekerja yangditemui di lokasi, Dadang (50) pembangunan ruang kelas itu dihentikan sejak dua minggu lalu. Penyebabnya, tidak ada dana untuk membeli bahan material dan membayar upah 25 pekerja. Bahkan upah pekerja yang belum dibayar. Padahal para pekerja telah bekerja selama tiga minggu mereka bekerja.

"Sudah tidak kerja ngebangun lagi. Upah saya aja sebesar Rp125.000/hari belum dibayar selama tiga minggu. Saya jadi bingung karena harus bayar utang ke warung pas kerja di sini," kata Dadang, Selasa (12/2/2019).

Terbengkalainya pembangunan ruang kelas di empat sekolah ini membuat siswa jadi korban. Mereka terpaksa belajar bergantian karena tidak ada ruang kelas yang bisa dipakai.

Bahkan ada beberapa murid yang belajar tambahan sambil lesehan di ruangan yang penuh sesak oleh meja, buku, dan kursi yang disimpan di ruangan tersebut. Akibatnya sejumlah properti penting sekolah rusak karena ditumpuk di dalam satu ruangan.

Pihak sekolah beralasan tidak adanya aktivitas pembangunan karena sedang menunggu proses pencairan anggaran dari pihak ketiga. Meski mangkrak, mereka menegaskan kegiatan belajar mengajar para siswa tetap harus berjalan seperti biasa.

Bahkan pihak sekolah sudah melakukan perjanjian dengan pihak ketiga untuk meminta mereka menyelesaikan pembangunan. "Pembangunan memang dihentikan karena pihak ketiga sedang mencari biaya untuk membangunnya," kata Kepala SD Cimerang 2 Muhamad Mamun.



(awd)