alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Pertemuan Billy, Toto, dan James Riady dengan Neneng Hasanah Diatur Edi

Agus Warsudi
Pertemuan Billy, Toto, dan James Riady dengan Neneng Hasanah Diatur Edi
Edi Dwi Soesianto, Kadiv Land Acquisition and Permit PT Lippo Cikarang, bersaksi di sidang kasus suap Meikarta, Senin (11/2/2019). Foto/SINDOnews/Agus Warsudi

BANDUNG - Kadiv Land Acquisition and Permit PT Lippo Cikarang  Edi Dwi Soesianto merupakan orang yang mengatur pertemuan antara konglomerat James Riady, Billy Sindoro, Toto Bartolomeus dengan Bupati Bekasi nonaktif Neneng Hasanah Yasin. Pertemuan tersebut tidak terjadi secara kebetulan seperti pengakuan James Riady pada persidangan pekan lalu.

Kepada jaksa penuntut umum (JPU) KPK dan majelis hakim, Edi mengaku, pertemuan dengan Neneng Hasanah itu terjadi justru diminta oleh James untuk membahas Meikarta.

Fakta persidangan tersebut terungkap sidang kasus suap Meikarta di Pengadilan Tipikor pada PN Bandung, Jalan RE Martadinata, Kota Bandung, Senin (11/2/2019).



Sebelum mencecar Edi dengan sejumlah pertanyaan, JPU KPK lebih dulu memutar rekaman percakapan antara Edi Soes dengan mantan Presiden Direktur PT Lippo Cikarang Bartholomeus Toto pada 6 Januari 2018.

Toto: Bisa ngomong sebentar?
Edi Soes : Ya bisa.
Toto: Pak James sama Pak Billy mau ketemu Ibu (Neneng Hasanah Yasin). Kalau enggak besok, Senin. Jadi mau ngomong bertiga. Bagus nggak? Bagus kan?
Edi: Jadi mau ketemu, Pak James. Bagus nih. Kalau besok bisanya sore, kalau enggak berkenan ya Senin.
Toto: Tapi ngomongnya hati-hati ya, ya.

Setelah rekaman diperdengarkan, jaksa KPK menanyakan kepentingan apa pertemuan tersebut dilakukan. "Di sini juga Toto menyampaikan Pak James nggak pernah mau ketemu sekarang, mau ketemu supaya urusan beres. Apa maksud Toto ini?" tanya jaksa KPK.

"Ya artinya selama ini kita masih banyak urusan-urusan di Pemkab (Bekasi)," ujar Edi.

"Apakah termasuk urusan Meikarta?" cecar jaksa.

"Ada kemungkinan, tapi saya nggak bisa secara eksplisit. Bisa jadi," tutur Edi.

"Tapi itu hati-hati ngomongnya? Takut disadap?" kata jaksa.

"Pemahaman saya beliau pejabat. Pasti ya kita nggak usah banyak omong. Itu yang saya tangkep," jelas Edi.

Di hari yang sama, Edi Soes lalu menghubungi stafnya E Yusuf Taufik. Edi menyampaikan soal rencana keinginan para petinggi perusahaan pengembang Meikarta itu (James, Toto, dan Billy) bertemu dengan Bupati Neneng.

Rekaman percakapan antara Edi Soes dan E Yusuf Taufik juga diperdengarkan dalam persidangan.

Edi Soes: Ada info perintah penting dari Pak TB (Toto Bartholomeus). Khusus minta tolong Pak James sama Pak Billy mau ngadap Ibu (Neneng Hasanah), kapan ya kira-kira waktunya?
Taufik: Siapa?
Edi Soes: Pak James sama Pak Billy mau ngadap ibu. Suruh koordinir. Gimana enaknya?
Taufik: Langsung?
Edi Soes : Iya langsung. Gitu, Pak. Terserah apa besok malam atau Senen.
Taufik: Saya lagi di Banten, Pak. Siapa yang mau bertemu?
Edi Soes: Pak Billy. Ya itu sudah petinggi pokoknya. Di atasnya Pak Toto. Apa besok sore?

Rekaman berdurasi 21 menit itu dipotong jaksa. Jaksa lalu menanyakan perihal materi dari percakapan tersebut.
"Kemudian Taufik memberikan nomornya Marfuah? Ajudan, sekpri Bupati?" tanya jaksa.

"Setahu saya tetap Pak Taufik yang mengatur yang menelpon protokoler," tutur Edi Soes.

"Apa kepentingan Billy meminta nomor Marfuah?" tanya jaksa.

"Saya nggak tahu, mungkin Pak Billy mau komunikasi langsung, saya juga nggak tahu," kata Edi Soes.

Seusai persidangan, jaksa KPK Yadyn mengatakan, bukti rekaman percakapan dan kesaksian Edi Soes intinya menyanggah keterangan James Riady yang mengaku pertemuan dengan Bupati Neneng hanya kebetulan karena diajak Toto Bartolomeus saat berkunjung ke Sale Center Meikarta.

Bahkan, kesaksian Edi juga menyangkal kesaksian James yang mengaku tak membahas soal perizinan Meikarta dengan Neneng. James mengaku hanya menjenguk Neneng Hasanah karena baru melahirkan dan membicarakan soal pendidikan anak.

"Keterangan Edi Soes menyanggah semua kesaksian James. Percakapan telepon tadi membuktikan bahwa tujuan hanya menjenguk Neneng Hasanah yang baru melahirkan itu bisa kita bantah juga  Neneng Hasanah dalam persidangan sebelumnya menjelaskan bahwa di sana ada proses di mana mereka memperlihatkan gambar-gambar terkait proyek Meikarta," kata Yadyn.

Yadyn mengemukakan, kesaksian Edi Soes juga membuat jelas bahwa pertemuan tersebut sudah direncanakan. Peran Edi Soes tergambar sebagai perantara yang menghubungkan pihak pengembang Meikarta dengan Pemkab Bekasi melalui EY Taufik.

"Ini sudah direncanakan. Toto menghubungi Edi Soes. Edi Soes menghubungi EY Taufik. EY Taufik menghubungi Marfuah, lalu Marfuah menghubungi ajudan. Kemudian, ajudan menghubungi Neneng Hasanah Yasin," tutur dia.

Diketahui, pada persidangan pekan lalu, James Riady mengaku pertemuan dengan Neneng Hasanah Yasin tidak terencana. (Baca juga: Konglomerat James Riady Akui Bertemu Neneng Hasanah).



(zik)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif