alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Protes Permensos, Penyandang Disabilitas Gelar Aksi Jalan Mundur

Arif Budianto
Protes Permensos, Penyandang Disabilitas Gelar Aksi Jalan Mundur
Puluhan penyandang disabilitas melakukan aksi jalan mundur dari Jalan Pajajaran hingga Gedung Sate, sebagai bentuk protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai bakal menelantarkan mereka. Foto/SINDOnews/Arif Budianto

BANDUNG - Puluhan penyandang disabilitas dari berbagai panti di Kota Bandung, Jawa Barat, menggelar unjuk rasa berjalan mundur, sebagai bentuk protes atas berbagai kebijakan pemerintah yang dinilai menelantarkan mereka.

Aksi jalan mundur dilakukan dimulai dari depan Panti Wyata Guna, Jalan Pajajaran, Kota Bandung. Mereka akan berjalan hingga Gedung Sate, Jalan Diponegoro, melalui Jalan Cihampelas, Wastukencana, RE Martadinata, Trunojoyo, dan berakhir di Jalan Diponegoro (Gedung Sate).

Forum Akademisi Luar Biasa Rianto mengatakan, aksi jalan mundur melibatkan penyandang disabilitas dari berbagai panti. Mereka penyandang tunarungu, tunawicara, tunagrahita, dan lainnya.



"Aksi ini dilakukan untuk menolak Peraturan Menteri Sosial (Permensos) Nomor 18 Tahun 2018. Permen itu akan menghilangkan dan mengurangi kewajiban negara untuk memelihara penyandang disabilitas," kata Rianto, Kamis (31/1/2019).

Menurut dia, Permen itu bertentangan dengan Undang-Undang Nomor 11/2009 tentang Kesejahteraan Sosial dan UU No 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas. Di situ disebutkan bahwa setiap orang tidak boleh menghalangi dan melarang penyandang disabilitas mendapat hak pendidikannya.

Aksi tersebut, kata dia, juga bentuk keprihatinan terhadap para calon pemimpin bangsa yang dinilai belum memiliki komitmen memperhatikan penyandang disabilitas.

Koordinator Lapangan Aksi Jalan Mundur Disabilitas Kharisma Nurhakim mengatakan, imbas dari Permensos tersebut adalah pergantian panti menjadi balai. Perubahan itu dikhawatirkan menelantarkan penyandang disabilitas.

Mereka khawatir tidak bisa mendapatkan pendidikan lagi, seperti di Wyata Guna. "Kami tidak tahu harus mengadu ke mana. Mereka di panti hanya dikasih waktu sampai Juni," beber dia.

Dia khawatir, akan banyak penyandang disabilitas yang dipulangkan. Sementara selama ini panti belum memberi pendidikan yang baik. Sehingga mereka belum memiliki bekal skill yang cukup.

"Sementara mereka (balai) tidak lagi menerima siswa. Karena sudah jadi balai, bukan panti lagi. Kalaupun menerima, katanya mereka tidak mau terima yang masih awam. Sementara kami harus mendapat pelatihan dari mana," ujarnya.



(zik)