alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Dedi Mulyadi Usulkan Pendirian Lapas Khusus Teroris

Agung Bakti Sarasa
Dedi Mulyadi Usulkan Pendirian Lapas Khusus Teroris
Ketua TKD Jokowi-Maruf Jabar Dedi Mulyadi. Foto/SINDOnews/Agung Bakti sarasa

BANDUNG - Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Joko Widodo-Ma'ruf Amin Dedi Mulyadi mengusulkan pendirian lembaga pemasyarakatan (Lapas) khusus kasus terorisme untuk menekan kasus terorisme di Indonesia.

Dedi mengaku, sependapat dengan pernyataan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01 Ma'ruf Amin dalam Debat Calon Presiden (Capres) yang digelar Kamis 17 Desember 2019 malam yang menyatakan, pemberantasan terorisme harus dimulai dari akarnya, yakni mengubah ideologi dengan doktrin.
 
Dedi menegaskan, terorisme merupakan kejahatan ideologis. Karenanya, penanganannya pun harus dilakukan melalui pendekatan ideologis, salah satunya lewat peran orang-orang yang mampu memberikan antitesa terhadap paham terorisme.

"Terorisme itu kejahatan ideologi, maka pendekatannya harus pendekatan ideologi. Ideologi itu dapat ditahan meski dalam pikiran, ideologi itu bisa dipidana meski dalam pikiran," ungkap Dedi di Bandung, Jumat (19/1/2019).



Oleh karenanya, lanjut Dedi, perlu adanya sebuah lembaga pemasyarakatan khusus bagi para pelaku tindak terorisme. Di dalam penjara khusus teroris tersebut, kata Dedi, nantinya para petugas yang memiliki penghayatan dan pemahaman terhadap kajian agama bertugas memberikan antitesa terhadap paham terorisme.

"Harus ada lembaga pemasyarakatan khusus. Sekarang kan penyidiknya sudah khusus, jaksanya sudah khusus, tinggal lembaga pemasyarakatanya, harusnya khusus," ujar Dedi.

"Di lembaga pemasyarakatan itu nanti apa yang dilakukan? Suruh debat ideologi. Kalau ngadu dalil ngadu dalil, ngadu pendapat ngadu pendapat, ngadu logika ngadu logika," lanjut Dedi.

Dedi menekankan, penanganan kasus terorisme tidak bisa disamakan dengan penanganan kasus pidana umum. Pasalnya, akar terorisme adalah ideologi yang dimulai dari radikalisme berpikir. Penganut paham terorisme tidak mau menghargai pikiran orang lain dan menganggap pikirannya paling benar.

"Seorang terpidana teroris ketika dipidana mati saja senyum, bayangin aja mau dihukum pakai apalagi coba? Orang dipidana mati saja tersenyum. Artinya, otaknya sudah tercuci, sehingga pendekatannya tidak bisa dengan pendekatan umum," terangnya.

Upaya lain yang dapat dilakukan untuk memberantas paham terorisme, lanjut Dedi, yakni adanya ruang perdebatan pikiran. Upaya tersebut dinilainya cukup ampuh untuk membendung penyebaran paham-paham terorisme.

"Perdebatan pikiran itu kini sudah hilang. Di era 80-90-an, banyak perdebatan pikiran, misalnya kalau Cak Nur ngomong begini, maka Ridwan Saidi ngomong begini atau saat Dewan Dakwah mengeluarkan buku, maka dilawan lagi dengan buku," tutur Dedi.

Dedi menambahkan, masih cukup maraknya kasus terorisme di Indonesia tak lepas pula dari perdebatan panjang terkait undang-undang antiterorisme menyusul masih adanya pihak-pihak yang tidak sepakat dengan tindakan tegas untuk pelaku terorisme.

Padahal, tambah Dedi, negara tetangga seperti Malaysia saja sudah menerapkan aturan yang sangat tegas bagi pelaku tindak terorisme dimana meraka sudah memiliki undang-undang hingga penjara khusus bagi pelaku terorisme.

"Kami paham lah yang tidak sepakat itu kan memang memiliki konstituen yang memiliki kerangka berfikir ideologi yang hampir sama meski beda gaya. Orang ngomong agitator yang sudah jelas-jelas bertentangan dengan Pancasila saja susah diproses. Kalau diproses dianggap kriminalisasi. Kalau (bom) belum ngebeledug (meledak) ya (pelaku terorisme) gak bisa ditahan," tandas Dedi.



(awd)

KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif