alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

REI Jabar Optimistis Penjualan Rumah Bisa Tembus 100.000 Unit

Arif Budianto
REI Jabar Optimistis Penjualan Rumah Bisa Tembus 100.000 Unit
Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat optimistis tahun ini penjualan perumahan di Jawa Barat tembus angka 80.000 hingga 100.000 unit. Foto/SINDOnews

BANDUNG - Real Estate Indonesia (REI) Jawa Barat optimistis tahun ini penjualan perumahan di Jawa Barat tembus angka 80.000 hingga 100.000 unit, kendati pasar properti juga dibayang bayangi kondisi ekonomi global dan dampak virus corona.

Ketua REI Jabar Joko Suranto mengatakan, pihaknya berharap penjualan properti pada tahun ini bisa segera reborn, setelah penjualan pada 2019 lalu sedikit tumbuh melambat, hanya mencapai 70.000 unit. Sebabnya, kondisi ekonomi dan pilihan umum di dalam negeri.

"Kami berharap di kuartal dua, bisa reborn. Walaupun sekarang kita masih menghadapi dampak ekonomi akibat virus corona dan lainnya. Jadi sepertinya masih menghadapi tantangan yang cukup berat juga," kata Joko, Jumat (14/2/2020). (Baca juga; Pemerintah Akan Benahi Regulasi Perumahan Lewat Omnibus Law)



Kendati begitu, pihaknya memberi beberapa catatan, agar iklim usaha di sektor properti sesuai target. Salah satunya adalah soal kepastian usaha. Pemerintah diminta tidak membuat aturan yang membebani pengusaha properti. Aturan yang memberi kepastian, kata dia, akan menolong sektor ini, di tengah sulitnya penjualan dan turunnya daya beli.

"Misalnya, Bank Indonesia kan sudah melakukan relaksasi, melonggarkan LTV (loan to value) dan menurunkan GWM (giro wajib minimum). Tapi ini masih tidak singkrong dengan aturan PSAK No 71, seolah bertabrakan. Ini harus menjadi perhatian," katanya.

BI, OJK, dan lembaga terkait kainnya harus membuka diri, mengambil kebijakan jangka pendek, menengah, dan panjang. Terutama untuk jangka pendek, pihak terkait harus mempertimbangkan cash flow dan daya beli mayarakat. Bila uang beredar do masyarakat memadai, ekonomi mayarakat akan berkembang dan tumbuh.

Di sisi lain, lerbankan juga harus membuka diri, agar sektor properti bisa tumbuh. Apalagi penjualan tahun lalu tidak mencapai target, yang juga berdampak pada turunnya penyaluran pembiayaan perumahan.

Joko menyarankan, perbankan harus mau merelaksasi atau membuat terobosan. Aturan yang sifatnya kaku, mestinya ada solusi, sehingga pasar properti bisa terserap. Terutama market yang mungkin sudah visible tapi belum bankable. Karena peliknya ketentuan, mereka sulit mengakses kredit pemilikan rumah (KPR).

"Coba dibuat simulasi atau hitungan baru. Intinya kami ingin banknya bagus dan tetap sehat. Tapi jangan karena tidak bankable jadi susah semua. Misalnya, kami ingin dikaji ulang ketentuan orang yang kolektibilitasnya jelek. Tolong dilihat ulang berdasarkan kasus per kasus. Sehingga tidak semua orang yang pernah kena masalah, tertutup akses ke bank," tuturnya.

Perbankan, kata dia, mestinya bisa mengakselerasi pertumbuhan sektor ini. Mereka jangan hanya mempertimbangkan mematuhi tentuan saja, tatapi bagiamana sektor ini bisa tumbuh dan memberi dampak ekonomi lebih luas lagi.

"Sektor properti ini juga menjadi andalan bank. Setidaknya portofolio properti di bank harus masuk 17%. Artinya, kalau itu tidak tercapai, bisa turunkan pertumbuhan ekonomi serta berdampak sistemik," imbuhnya.



(wib)

preload video