alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Orang Mulai Tinggalkan Medsos, Ini Penjelasan Pakar New Media Unpad Dandi Supriadi

Agus Warsudi
Orang Mulai Tinggalkan Medsos, Ini Penjelasan Pakar New Media Unpad Dandi Supriadi
Pakar New Media Unpad Dandi Supriadi. Foto/Dokumentasi Pribadi Dandi Supriadi

BANDUNG - Pamor dan peran media sosial perlahan mulai terkikis. Lemahnya verifikasi data dan informasi di media sosial membuat platform tersebut mulai ditinggalkan masyarakat.

Ada sederet selebritas dan tokoh dunia merasa kapok dengan medsos dan akhirnya menutup akun pribadi mereka. Pada 2020 ini, pesohor yang menutup akun medsos adalah CEO Air Asia Tony Fernandez dan penulis asal Amerika Serikat (AS) Stephen King. Sebelumnya, CEO Tesla Elon Musk, dan eks CEO WhatsApp Brian Acton.

Di Indonesia pun, sejumlah tokoh seperti Mendikbud Dikti Nadiem Makarim dan sederet artis tak mau bermedsos ria. Mereka menganggap, media sosial tak lebih tempat sebaran informasi-informasi palsu, luapan kemarahan, dan sarana penyalahgunaan data pribadi pengguna.



Makin rendahnya kualitas informasi di media sosial ini juga membuat publik semakin tak percaya. Indikasi ini setidaknya dikuatkan dengan survei terbaru yang dilakukan Edelman dan Dewan Pers pada 2019.

Setelah sempat mengalahkan media mainstream pada 2015 lalu, kini grafik kepercayaan publik terhadap media social turun menurun. Sebaliknya media mainstream kembali bangkit.

Pakar New Media, Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom), Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung Dandi Supriadi memberikan penjelasan dan analisisnya terkait fenomena ini.

Dendi mengatakan, perlu digarisbawahi dulu, kecenderungan orang tidak suka dengan media sosial terjadi di masyarakat yang memiliki literasi media yang tinggi dan kebiasaan membaca yang besar.

"Seperti yang dicontohkan, orang-orang yang mulai meninggalkan medsos rata-rata adalah pesohor dari AS. Mas Menteri (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim) juga orang yang memiliki pergaulan internasional yang tinggi dan memang memiliki kemampuan membaca yang tinggi," kata Dandi kepada SINDO, Kamis (6/2/2020).

Dendi mengemukakan, kalau melihat kondisi di Indonesia yang secara budaya memang kebanyakan hidup dalam budaya kolektivisme dan budaya oral, media sosial yang lebih memfasilitasi bentuk komunikasi menyerupai obrolan, tetap masih banyak disukai.

Terbukti dengan statistik yang menunjukkan pada 2019 terjadi peningkatan pengguna aktif media sosial sebesar 15% dibanding tahun sebeumnya.

"Jadi menurut saya, ketika orang mulai tidak suka dengan medsos, artinya dia sudah memiliki kemampuan literasi dan kebiasaan membaca (reading habit) meningkat yang diperlihatkan oleh keinginan yang bersangkutan untuk selalu memverifikasi informasi. Orang-orang Barat yang umumnya berbudaya individualis dan literate, biasanya lebih memiliki kecenderungan seperti itu," ujar Dandi.

Ditanya apakah media sosial memang memiliki banyak negatif? Dendi menuturkan, banyak atau sedikit medsos berdampak negatif, itu relatif. Apalagi bila dibandingkan dengan efek positifnya. Namun harus diakui, medsos memiliki potensi untuk disalahgunakan, sadar atau tidak sadar oleh para penggunanya.

Pertama, tutur Dendi, medsos merupakan aplikasi "instant publishing", di mana setiap orang bisa menjadi penulis, publisher (penerbit), bahkan komentator dalam saat yang bersamaan. Semua orang dapat menulis apapun tanpa ada tuntutan disiplin verifikasi, seperti di media massa konvensional.

Penulis tersebut baru mendapatkan teguran atau sorotan justru dari sesama pengguna medsos. Dari situlah muncul istilah cyberbullying (perundungan dunia maya) di medsos. Selain itu, kedua, medsos menawarkan fasilitas "instant marketing" juga, yaitu kemampuan untuk mempromosikan sesuatu dengan cepat dan gratis dengan menekan tombol "like" dan "share".

Hal ini, tutur Dandi, pernah dibuktikan oleh penelitian pada 2018 oleh Buffer. Di mana, sebuah kedai kopi terkenal justru mendapatkan banyak pelanggan berkat pesan medsos yang mempublikasikan pengalaman seseorang berbelanja di situ yang kemudian di-"share" oleh orang lain.

Kemampuan ini pula yang kemudian berpotensi negatif karena pesan hoaks dengan cepat dapat disebarkan oleh orang-orang yang memang tidak terlalu tinggi kemampuan literasinya. Dengan cepat orang menekan tombol share tanpa melihat kebenaran isi informasi tersebut. "Menurut saya, hal inilah yang paling "negatif" dari medsos," tutur Dandi.

Lantas bagaimana seharusnya masyarakat menyikapi banyaknya platform medsos yang terus berkembang cepat ini? Dandi mengungkapkan, bagi masyarakat milenial yang lahir sebagai "digital native" atau generasi yang lahir di era digital, perkembangan platform medsos bukan merupakan masalah.

Di Indonesia sekalipun, generasi muda dapat dengan mudah menguasai teknologi baru dibandingkan orang tuanya. Namun, perkembangan teknologi komunikasi seharusnya diiringi dengan peningkatan kemampuan membaca dan analisis.

Dengan demikian, ungkap Dendi, akan berkembang sifat skeptis, tidak langsung percaya dengan apa yang dibaca. Masalahnya, kemampuan membaca dan analisis bukan sesuatu yang instan, melainkan harus dibiasakan sejak awal.

"Jadi idealnya, untuk menyikapi perkembangan platform medsos, orang perlu memiliki critical thinking. Ini PR (pekerjaan rumah) sebenarnya, yang harus dimulai dibiasakan di bangku sekolah melalui kurikulum yang tepat," ungkap dosen di Fikom Unpad ini.

Dandi mengatakan, ada dua alasan utama orang tidak mau lagi menggunakan medsos. Pertama, keinginan orang untuk mendapatkan informasi yang verified atau terverifikasi (dapat dipercaya) seperti yang dibahas di atas.

Kedua, orang mulai merasa terganggu privasinya karena medsos bisa menjadi jendela yang sangat terbuka untuk melihat kehidupan pribadi seseorang.

Sementara, kata Dandi, kepercayaan publik Indonesia atas medsos masih tinggi. Sebab, budaya Indonesia yang memang senang "mengobrol ringan tanpa memverifikasi" sebagai ciri khas masyarakat kolektivis.

Berdasarkan data statistik, pengguna aktif medsos pada 2019 meningkat 15% dari 2018. Jumlah pengguna medsos mencapai sekitar 150 juta orang atau 57% dari total populasi Indonesia. Rata-rata mereka menghabiskan waktu 3 jam 26 menit untuk mengakses medsos.

Pengguna paling banyak ada dalam rentang usia 18 sampai dengan 34 tahun atau yang termasuk ke dalam golongan milenial. Selain medsos, masyarakat Indonesia juga menyukai percakan melalui messaging service, terutama WhatsApp.

Bila diurutkan dalam enam besar, peringkat pertama yang diminati adalah YouTube. Berikutnya adalah WhatsApp. Selanjutnya berturut-turut, Facebook, Instagram, LINE, dan Twitter.

"Kondisi budaya bangsa Indonesia dalam berkomunikasi ini pernah saya sampaikan sebagai salah satu sebab besarnya pengaruh berita palsu atau hoaks. Jumlah berita palsu mungkin di mana-mana sama, baik di Indonesia maupun di Amerika, misalnya, tapi pengaruhnya kepada masyarakat jauh berbeda," pungkas Dandi.



(awd)

preload video