alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

BPJS Kesehatan Purwakarta: Jumlah Peserta Dekati Angka UHC

Asep Supiandi
BPJS Kesehatan Purwakarta: Jumlah Peserta Dekati Angka UHC
Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika memimpin rapat koordinasi dengan tim BPJS Kesehatan setempat beberapa waktu lalu. BPJS Kesehatan mengklaim kepesertaan jaminan kesehatan mendekati angka UHC. Foto/Diskominfo Purwakarta

PURWAKARTA - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan Purwakarta mengklaim kepesertaan jaminan kesehatan di Kabupaten Purwakarta mendekati target Universal Health Coverage (UHC).

"Awal tahun ini, kepesertaan warga Purwakarta untuk ikut BPJS Kesehatan sudah diangka 90% dari jumlah penduduk. Artinya, hanya tinggal 5% lagi dari target UHC," kata Kepala Cabang BPJS Kesehatan Karawang Debbie Nianta Musigiasari, Minggu (19/1/2020).

Debbie mengemukakan, angka kepesertaan asuransi kesehatan ini naik sekitar 7% dari tahun sebelumnya. Pada 2020, pihaknya kembali melibatkan pemerintah daerah agar target 5% bisa terelisasi. "Mudah-mudahan pada 2020 ini target yang ditetapkan UHC ini bisa tercapai," ujar dia.



Bupati Purwakarta Anne Ratna Mustika menuturkan, tingginya jumlah warga Purwakarta untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan ini karena Pemkab Purwakarta mendorong agar masyarakat bisa dijamin asuransi kesehatan.

Bahkan, kata Anne, khusus warga kurang mampu, pemerintah daerah mengalokasikan anggaran agar bisa menikmati jaminan kesehatan. Salah satunya dengan memfasilitasi masyarakat yang belum terasuransi bisa menjadi peserta BPJS Kesehatan. Pemkab Purwakarta yang membayar premi BPJS Kesehatan menggunakan dana APBD.

Sementara itu, salah seorang warga Desa Mekarsari, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta, Ekarokatunnaza (30) mengaku urung mendaftar BPJS Kesehatan.

Tadinya dia bersama anak dan suaminya berencana mendaftar BPJS Kesehatan kelas I. Karena nilai iuran saat ini menjadi Rp160.000/orang, suaminya menyarankan agar tidak ikut. "Kalau tiga orang berati harus ngeluarin iuran Rp480.000 setiap bulan. Kebayang gak tuh hampir setengah juta," ujar Eka.

Beban itu akan semakin berat jika pemerintah mencabut subsidi elpiji 3 kg hingga prediksi harga menjadi Rp40.000/tabung. "Jika sebulan habis lima tabung, berarti harus ngeluarin uang untuk beli gas Rp200.000/bulan. Belum lagi listrik. Saya bayar listrik kurang lebih Rp100.000/bulan," pungkas dia.



(awd)

preload video