alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Lewat West Java Green Festival, PUPUK Dorong Bisnis Ramah Lingkungan

Agung Bakti Sarasa
Lewat West Java Green Festival, PUPUK Dorong Bisnis Ramah Lingkungan
ACMFN Indonesia melalui PUPUK menggelar Forum Bisnis Hijau dan Cleantech Financing dalam West Java Green Festival 2019 sebagai upaya penguatan bisnis ramah lingkungan. Foto/Dok.PUPUK

BANDUNG - Asian Cleanch MSME Financing Network (ACMFN) Indonesia melalui Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) Jawa Barat mengadakan Forum Bisnis Hijau dan Cleantech Financing dalam West Java Green Festival 2019.

Kegiatan yang diikuti komunitas dan asosiasi, di antaranya Komunitas 1000 Kebun, Komunitas Organik Indonesia, Komunitas Hayu Hejo KBPA, Kadin Jabar, Hipmi Jabar, The Local Enabler, AIKMA, dan lainnya itu, bertujuan untuk mendorong penguatan inkubasi usaha agar semakin ramah lingkungan melalui penerapan konsep green business (bisnis hijau).

Direktur Eksekutif PUPUK Jabar Cecep Kodir Jaelani mengatakan, forum ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem menuju tagline #nextlevelcollaboration dengan mempercepat pengembangan produk pembiayaan di ruang teknologi bersih.



Upaya ini dikemas dengan menampilkan praktik dan pelajaran dari bisnis hijau dan lembaga keuangan Indonesia, investor dan UMKM, serta menghadirkan pengalaman dari negara Asia lainnya, termasuk China dan India.

Kegiatan ini pun disertai pitching public yang melibatkan lebih dari 20 peserta start up dan UMKM yang mulai beralih menerapkan konsep bisnis hijau ke lembaga keuangan, pemerintah, buyer, dan lembaga Iembaga terkait lainnya.

Forum yang digelar di Bandung, Senin 9 Desember 2019 itu, kata Cecep, sedianya merupakan proyek multinegara SWITCH-Asia antara China, Indonesia, dan India yang bertujuan untuk mempromosikan cleantech financing, produk, proses, layanan dan pola konsumsi berkelanjutan di Asia serta rangkaian dari Closing Project ACMFN yang telah berjalan dalam kurun waktu 2016-2019.

"Ini adalah awal dari kolaborasi yang lebih luas. Empat tahun kami berjalan bersama komunitas hijau dan yang akan (menerapkan konsep bisnis) hijau. Kegiatan ini tidak akan berlanjut kalau tidak ada dukungan dari KADIN dan HIPMI," kata Cecep dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Rabu (11/12/2019).

Pria yang akrab disapa Ceko ini mengemukakan, keberadaan usaha hijau yang siap untuk tumbuh dan berkembang sebagai duta-duta gerakan hijau sangat penting untuk dihadirkan. Apalagi, mereka berpotensi menjadi juara-juara baru start up maupun usaha yang yang sedang bertransformasi menjadi usaha yang lebih ramah lingkungan.

"Kenapa harus #nextlevelcollaboration? Harapannya, agar komunitas ini lebih hujau dan masuk ke dalam rantai nilai global. Harapannya, UMKM kita awwarness soal isu green, pengolahan sampah, efisiensi energi, dan lainnya," ujar Ceko.

Sekretaris BPD HIPMI Jabar Helma Agustiawan mengatakan, sudah saatnya Indonesia mengadopsi dan mengimplementasikan kebijakan-kebijakan ramah lingkungan atau kebijakan hijau. Salah satu langkahnya, yakni dengan mengubah kegiatan ekonomi lebih mengutamakan inovasi dan produksi yang punya nilai tambah tinggi.

"Kita sosialisasi tentang green business ini. Kami bangga, di konsorsium ini, saat kami mengadakan bootcamp, mereka bisa membuat bisnis plan jauh dari yang sebelumnya dibuat. Ini menjadi salah satu konsep kita, tapi minimal kami meningkatkan awwarness gaya hidup hijau. Selain pengusahan meningatkan green bisnisnya, tapi green lifestyle masyarakat juga semakin tinggi," tutur Helma.

Oleh karenanya, ungkap Helma, beragam program peningkatan kapasitas UMKM di beberapa sektor mulai dibangun, seperti rotan ramah lingkungan, pengembangan model pengolahan sampah yang bermanfaat bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, hingga menginiasi penggunaan sumber daya alam sebagai bagian dari energi yang terbarukan dan sebagainya.

"Kami juga memberikan solusi, contoh komunitas Hayu Hejo yang merupakan komunitas kosumen. Untuk menemukan benang merah, kami pertemukan pengusaha dan komunitas pembeli yang punya awwareness soal itu. Karena intinya, setalah mind set pelaku usaha berubah, lifestyle berubah, nanti ketemu di satu titik, maka teman-teman ini semakin ingin mengubah menjadi green bisnis," ungkap dia.

Sementara itu, Wakil Ketua Kadin Jabar Aman Suparman menyatakan, menurut data sensus ekonomi BPS 2016, UMKM di Indonesia telah menyumbang Rp8.400 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dimana angka tersebut setara dengan 60,34 persen dari Rp14.000 triliun PDB Indonesia.

Sedangkan di 2018, UMKM ternyata menyerap 96 persen dari 170 juta tenaga kerja atau sekitar 121 juta, 14,7 persen ekspor, dan 58,16 persen investasi dengan pertumbuhan tiap tahun 5 persen.

Artinya, kata Aman, UMKM punya potensi yang luar biasa. Sayangnya, kata Aman, keterlibatan sektor UMKM Indonesia dalam rantai nilai global masih rendah, misalnya hanya 6,3 persen dari total UMKM yang ada di Indonesia yang mampu terlibat dalam rantai perdagangan di wilayah Asia Tenggara dimana salah satu isu pentingnya, yakni konsumsi yang berkelanjutan.

"99,9 persen itu kontribusi UMKM. Dari PDB Indonesia, 60 persen kontribusinya dari UMKM. Makanya, ke depam, komitemen Kadin mendorong perusahaan untuk lebih green lagi dan peduli lingkungannya," kata Aman.

Aman mengemukakan, UMKM hijau akan menjadi solusi penting berkelanjutan yang didorong oleh sektor swasta dalam tantangan pembangunan berkelanjutan yang dihadapi Indonesia. Oleh karenanya, ekosistem ini harus diperkuat dengan mengajak semua pihak dalam rantai nilai usaha hijau dalam "memaksa" penggunaan proses produksi dan distribusi yang lebih ramah lingkungan.

"Komunitas green ini bisa menyarankan aspirasinya di 27 kabupaten/kota di Jabar. Dan kami akan bawa wacana green ini ke forum pemerintahannya. Harapannya, ada top down dari pemerintah, dan bottom up dari perusahan. Kampanye itu yang kami harapkan," ujar Aman.



(awd)