alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Gelar DevFest 2019, Google Asah Skill Digital Anak Muda Bandung

Agung Bakti Sarasa
Gelar DevFest 2019, Google Asah Skill Digital Anak Muda Bandung
Lewat ajang GDG DevFest Bandung 2019, Google mengasah skill teknologi digital anak-anak muda Bandung untuk melahirkan developer muda yang andal. Foto/SINDOnews/Agung Bakti Sarasa

BANDUNG - Google berupaya melahirkan developer muda andal di Bandung melalui peningkatan kapabilitas dalam bidang teknologi digital di ajang Google Developer Groups (GDG) Devfest Bandung 2019.

Lewat DevFest Bandung 2019, perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan produk internet itu berupaya mengasah keterampilan atau skill teknologi digital anak-anak muda Bandung yang suka atau sudah berprofesi di bidang itu.

"Acara ini gagasannya dari Google. Output-nya biar anak muda Bandung upgrade skill, makin bagus, punya relasi makin bagus, hingga dunia mengenal bahwa anak-anak Bandung jago-jago dalam hal teknologi," kata Community Lead GDG Bandung Dimas Satrio di sela-sela DevFest Bandung 2019 di Click Square, Jalan Naripan, Kota Bandung, Minggu (8/12/2019).



Melalui ajang yang digelar sejak Sabtu 7 Desember 2019 itu, Google pun berharap, akan lahir developer muda Bandung berkualitas dan berstandar internasional. Terlebih, kata Dimas, Bandung dikenal memiliki talenta-talenta terbaik di bidang teknologi digital. "Bandung dikenal sebagai hub developer teknologi digital, kita ingin menciptakan ekosistem teknologi digital di Bandung," ujar dia.

Dimas menuturkan, upaya ini pun sekaligus untuk mengatasi persoalan kelangkaan developer andal yang belakangan banyak direkrut startup digital besar. Diakui Dimas, banyak unicorn Indonesia mencari developer asal Bandung.

Bahkan, tutur Dimas, mereka berani membayar developer muda dengan nominal gaji yang cukup besar antara Rp15-20 juta per bulan. Dengan nominal gaji sebesar itu, dipastikan hanya startup digital besar yang mampu membayarnya.

"Gaji talent unicorn itu antara Rp15 juta-20 juta, itu untuk yang baru lulus. Di Bandung, perusahaan startup digital mulai sulit mencari developer karena sering dibawa ke perusahaan di Jakarta. Jadi, memang persaingan gajnya sangat tinggi," tutur dia.

Pihaknya khawatir, kondisi tersebut justru menyebabkan ekosistem teknologi digital di Bandung tidak berkembang. Padahal, di Bandung sendiri kini banyak bermunculan startup digital baru yang sangat membutuhkan peran developer. "Banyak perusahaan (startup digital) bikin kantor di Bandung. Harapannya, mereka juga cuma pakai developer Bandung," ungkap Dimas.

Oleh karenanya, melalui Devfest Bandung 2019, Google mencoba melahirkan developer muda andal agar bisa dimanfaatkan oleh startup digital yang baru berkembang di Bandung dan tidak memiliki modal terlalu besar. "Kami tidak ingin talent di Bandung pindah semua ke Jakarta atau ke kota besar lainnya, sehingga ekosistem industri atau teknologi di Bandung tidak berkembang," tandas dia.

Sementara itu, Google Developer Expert untuk Google Technology Ivan Kristianto mengatakan, GDG merupakan komunitas yang diinisiasi oleh Google untuk meningkatkan kapabilitas dan skill developer muda serta melahirkan bakat-bakat baru di bidang teknologi digital.

Lewat GDG dan Devfest Bandung 2019, para developer muda dan calon-calon developer yang menjadi peserta akan mendapatkan bocoran informasi teknologi digital apa saja yang akan tren di masa mendatang serta teknologi terbaru yang dikembangkan oleh Google. "Kami ingin meningkatkan web platform. Google ini kan search engine, tentunya semakin baik web content dan web platform, tentu search enggine juga ikut semakin baik," kata Ivan.

Selain itu, skill developer yang semakin baik, kata Ivan, tentu akan menghasilkan produk yang semakin baik pula, sepertihalnya produk aplikasi yang dikembangkan dalam Android. "Android ini produk Google. Kalau secara skill developer bagus-bagus, tentu produk yang dikeluarkan juga bagus, seperti Android aplication. Jadi, impact-nya tidak langsung ke Google saja, tapi ke pemakai secara umum," katanya.



(awd)