alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Chef Andrian Ishak Hadirkan Sensasi Berbeda Nikmati Kuliner Legendaris Bandung

Agung Bakti Sarasa
Chef Andrian Ishak Hadirkan Sensasi Berbeda Nikmati Kuliner Legendaris Bandung
Chef Andrian Ishak tampil sambil membawa gitar di penghujung Multisensory Dining di Gedung PGN, Kawasan Gedung Tua, Jalan Braga, Kota Bandung, Jumat 29 November 2019 malam. Foto/Dok.Andrian Ishak

BANDUNG - Sebagai salah satu surga kuliner, Bandung memiliki beragam sajian istimewa yang melegenda. Namun, apa jadinya jika kuliner legendaris itu disajikan dalam tampilan yang jauh di luar ekspektasi wujud aslinya?

Sebut saja Lotek Kalipah Apo 42, kuliner legendaris Bandung yang sudah dikenal sejak setengah abad silam itu disajikan sangat berbeda dengan wujud sesungguhnya. Kuliner berupa sayur matang yang dicampur sambal kacang plus kerupuk itu justru disajikan dalam bentuk seperti donat. Meski wujudnya jauh dari ekspektasi lotek yang sesungguhnya, cita rasa aslinya ternyata tetap terjaga.

Itulah salah satu contoh 'ulah' Chef Andrian Ishak. Dia berupaya menghadirkan sensasi dan pengalaman berbeda saat menikmati sebuah sajian kuliner lewat teknik molecular gastronomy. Lewat teknik yang dikuasainya itu, Chef Andrian sukses mewujudkan passion-nya sekaligus memberikan kejutan dan pengalaman yang berbeda.



Andrian yang sebenarnya tak ingin dicap sebagai chef itu mengaku, keberhasilan  dirinya menjadi seorang chef molecular gastronomy berkat kegigihannya dalam mengeksplorasi diri hingga menemukan passion sejatinya, yakni mendorong batas inovasi kuliner dengan cara memadukan kesenian dan sains.
Foto/SINDOnews/Agung Bakti Sarasa
Selama 15 tahun, Chef Andrian mendedikasikan hidupnya dalam ilmu kuliner molecular gastronomy. Meski waktu yang dijalaninya cukup panjang, namun tak pernah membuatnya lelah berkreasi menciptakan keajaiban dan pengalaman baru di dalam sebuah hidangan.

"Saya itu sebenarnya bukan seorang koki, melainkan seorang seniman. Bermula menjadi seorang gitaris, mengembangkan kecintaan saya terhadap seni dan makanan yang
mengantarkan saya mempelajari teknik molecular gastronomy. Perjalanan yang cukup panjang dan berlika-liku dalam menemukan apa yang menjadi passion saya, namun it’s worth it," ungkap Chef Andrian seusai Multisensory Dining bertema "Discover the Local legends" di kawasan Gedung Tua, Jalan Braga, Kota Bandung, Jumat (29/11/2019) malam.

Chef Andrian mengakui, kuliner yang disajikannya merupakan hasil dekonstruksi yang diilhami dari seluruh perjalanan passion yang ditempuhnya. Di balik tampilan penyajian yang menipu mata, Andrian menginginkan para penikmat sajian kulinernya menjelajah rasa dari setiap bagian yang disantap.

"Sesuai temanya, ini kan hasil dari sebuah deconstruction, and than re-think, kita cari, mau diapakan makanan ini. Lewat sajian malam ini, saya ingin setiap orang yang hadir juga terus mencari, menemukan, dan mengerti pentingnya sebuah passion," ujarnya.

Dalam Multisensory Dining semalam, selain Lotek Kalipah Apo 42, Chef Andrian menyajikan 16 sajian kuliner legendaris Bandung lainnya, seperti Batagor Kingsley, Mikocok Mang Dadeng, Surabi Enhaii, Bakmi Linggarjati, Sate Hadori, hingga Es Cendol Elizabeth yang semuanya disajikan benar-benar di luar ekspektasi wujud aslinya.

"Sebenarnya yang seru di Bandung itu my sentimentil riset, gak susahlah cari local legend karena Bandung merupakan tempat yang sangat istimewa di hati saya. Bukan hanya karena makanan-makanannya, tetapi juga saksi hidup saya dalam discover dan decide apa yang membuat hidup saya menjadi lebih terarah dan penuh semangat," tutur chef yang menyelesaikan pendidikannya di Institut Pariwisata Bandung itu.

Menurut Andrian, molecular gastronomy sebenarnya sudah hadir cukup lama di industri makanan Tanah Air. Selain itu, bahan-bahannya pun tak sulit diperoleh di supermarket. Meski begitu, diakuinya, teknik tersebut selama ini belum banyak dilirik restoran-restoran di Indonesia.
Foto/SINDOnews/Agung Bakti Sarasa
"Jadi, kalau kita ke supermarket, itu bahan-bahannya tersedia. Cuma memang tidak ada yang eksperimen dengan bahan-bahan itu supaya bisa create makanan macam-macam kaya tadi. Jujur ya, di Bandung banyak tempat bagus, cuma menurut saya makanannya play safe aja. Konsepnya bagus, tapi kalau udah buka menu mirip-mirip semuanya," bebernya.

Disinggung soal goals yang ingin dicapainya, Chef Andrian yang sudah membuat lebih dari 100 menu kuliner khas dengan teknik molecular grastonomy itu berharap, sajian kuliner yang diciptakannya tidak hanya diapresiasi sebagai kuliner belaka. Lebih dari itu, kuliner yang dibuatnya dapat diapresiasi juga dari sisi seni dan budaya.

"Indonesia tidak hanya kaya akan kuliner, tapi seni dan budaya juga, itu yang harus bisa diangkat. Jadi, goalnya itu, orang harus tahu local legend sebagai hal harus dihormati. Seperti Yoghurt Cisangkuy, itu sudah ada dari dulu, tapi its gone. Jadi, kita ingin ngingetin lagi soal kuliner legendaris itu," jelas chef yang juga bermimpi menyajikan beragam kuliner khas daerah Nusantara lewat teknik molecular gastronomy.

Meski sajian kuliner molecular grastonomy masih cukup asing terdengar di telinga sebagian besar masyarakat serta pangsa pasarnya yang spesifik, Chef Andrian yang juga pemilik restoran molecular grastonomy Nimaaz Dining itu menilai, apresiasi masyarakat terhadap sajian molecular grastonomy selama ini cukup baik.

"My restaurant itu mau jalan 9 tahun, so far is good karena kita niche market. Tapi ternyata, surprising-nya di Bandung juga ada, padahal tadinya kita gak tahu ada atau gak," imbuhnya.

Dalam Multisensory Dining tadi malam, Chef Andrian dan tim sukses memukau puluhan peserta jamuan makan malam tersebut. Satu demi satu menu sajian kuliner legendaris disajikan di hadapan para peserta sambil diiringi tata cahaya lampu dan musik serta paparan tentang kuliner yang disajikan.

Di pengujung acara, Chef Andrian pun memberikan kejutannya dengan menyajikan menu Es Duren Kantin Sakinah yang dipadukan Es Alpukat Linggarjati sebagai hidangan dessert. Perpaduan kedua sajian kuliner itu menghadirkan sensasi hujan sebenarnya. Apalagi, instrumen musik metal dan backsound gemuruh petir serta visual menampilkan suasana hujan deras.

Seketika, Chef Andrian pun maju ke tengah arena sambil memainkan gitar listrik dan langsung disambut riuh seluruh peserta yang telah mengenakan jas hujan berbahan plastik bening. Seluruh peserta pun tampak antusias dan puas menikmati seluruh sajian hingga riuh tepuk tangan pun memenuhi seisi ruangan.



(zik)