alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Wapres Ma'ruf Amin Berharap Ekspor Produk Halal Meningkat

Yuswantoro
Wapres Maruf Amin Berharap Ekspor Produk Halal Meningkat
Wapres KH Maruf Amin, saat hadir sebagai pembicara kunci dalam International Halal and Thayyib Conference 2019 di Universitas Brawijaya Malang, Rabu (27/11/2019). Foto/KORAN SINDO/Yuswantoro

MALANG - Potensi pasar produk halal di dunia sangat besar. Hal sama juga terjadi pada ekonomi dan keuangan syariah. Indonesia diharapkan mampu memaksimalkan potensi dan peluang ini.

Upaya pemaksimalan potensi dan pengembangan produk halal serta ekonomi dan keuangan syariah ini dibahas dalam International Halal and Thayyib Conference 2019 di Universitas Brawijaya (UB) Malang, Jawa Timur, Rabu (27/11/2019) dengan pembicara kunci Wakil Presiden (Wapres) KH Ma'ruf Amin.

Bagi mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini, Konferensi Internasional Halal dan Thayyib 2019 ini dinilainya sangat penting untuk mempromosikan industri halal di Indonesia.



Dia menegaskan industri halal bakal menjadi tulang punggung ekonomi nasional. "Pengembangan ekonomi dan keuangan syariah saat ini memiliki momentum yang baik. Indonesia mengalami kenaikan peringkat dalam pengembangan keuangan syariah di dunia," tutur Ma'ruf.

Menurut dia, berdasarkan hasil penelitian Islamic Finance Development Indicator (IFDI) pada tahun 2018 Indonesia berada di peringkat 10 dalam pengembangan keuangan syariah. Pada tahun 2019, naik menjadi peringkat empat dari 131 negara.

Sementara, menurut Islamic Finance Country Index, Indonesia menjadi peringkat pertama di tahun 2019 dalam pengembangan keuangan syariah. Peringkat ini jauh lebih baik dari tahun sebelumnya. Pada 2018, Indonesia masih berada di peringkat enam dunia.

Wapres menyebutkan, potensi pasar halal dunia sangat besar. Pada tahun 2017, produk halal di pasar halal dunia mencapai USD2,1 triliun dan diprediksi terus berkembang di hingga nilainya mencapai 3 triluan dollar AS di tahun 2023.

"Kita harus dapat memanfaatkan potensi besar pasar halal dunia ini, dengan meningkatkan ekspor produk halal. Nilai ekspor produk halal kita sekarang baru mencapai 3,8 persen dari total pasar halal dunia," tuturnya.

Dia menyebutkan, berdasarkan laporan Global Islamic Economic Report 2019, Brasil merupakan eksportir produk halal nomor satu di dunia, nilainya 5,5 miliar dolar AS, dan Australia berada di peringkat dua dengan nilai USD2,4 miliar.

Sementara kondisi sebaliknya terjadi pada Indonesia, kata Wapres, pada tahun 2018 Indonesia membelanjakan 214 miliar dolar AS untuk produk halal. Nilai ini mencapai 10% pangsa pasar produk halal dunia.

"Indonesia menjadi konsumen terbesar produk halal dunia bila dibandingkan negara-negara berpenduduk mayoritas muslim di dunia. Saya akan lebih gembira jika Indonesia mampu memproduksi sendiri produk halal tersebut, dan bahkan bisa mengeskpornya ke berbagai negara di dunia," tuturnya.

Potensi produk halal yang dimiliki Indonesia sangat besar, bukan hanya makanan dan minuman saja, tetapi juga wisata, fashion, media, hiburan, kosmetik, hingga produk obat-obatan.

Menurut dia, visi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah menjadi pilihan rasional masyarakat. Demikian juga visi pengembangan produk halal, yang merupakan bagian pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, akan memberikan manfaat dan nilai tambah bagi masyarakat.

Produk makanan dan minuman bersertifikat halal, menurut dia, harus menjadi pilihan bagi seluruh masyarakat. Hal ini diakuinya, bukan karena kehalalalnya saja, tetapi karena kualitasnya yang baik. Makanannya berkualitas baik, yakni enak, sehat, bergizi, dan thayyib

Dia mengatakan, barang dan jasa yang disediakan untuk masyarakat bisa bersertifikat halal, karena kualitas dan keunggulannya, bukan sekadar label halalnya yang dilekatkan di produk tersebut.

Pengembangan produk halal menurutnya harus bersifat universal. Dia mengharapkan, produk halal bukan hanya untuk masyarakat muslim, tetapi jadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Indonesia, tanpa melihat perbedaan.

"Pengembangan produk halal sangat penting, karena kita tidak ingin menjadi konsumen halal. Bahkan, jangan sampai kita hanya menjadi tukang stempel halal, memberikan pengakuan terhadap produk halal dunia yang masuk ke Indonesia," tuturnya.



(zik)