alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Kesalahan Pola Pengajaran Berpotensi Memantik Siswa Memberontak

Agung Bakti Sarasa
Kesalahan Pola Pengajaran Berpotensi Memantik Siswa Memberontak
Para peserta memperhatikan materi yang disampaikan dalam kegiatan Class Series 2019-Komunitas Guru Masagi Final Season, belum lama ini. Foto/Dok. Class Series 2019

BANDUNG - Tanpa disadari banyak kesalahan dalam pola pengajaran yang dilakukan guru dalam mendidik siswanya. Padahal, hal itu akan berpengaruh buruk pada psikologis siswa di sekolah, siswa menjadi tidak bahagia.

Psikolog yang juga dosen Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Ifa H Misbach membedah hal tersebut lewat materi bertemakan "Mengapa Remaja Suka Memberontak?" dalam kegiatan Class Series 2019-Komunitas Guru Masagi Final Season, belum lama ini.

Ifa pun mengajak para guru untuk mencoba membacakan teks pada proyektor. "Kenapa kamu telat?" kata salah seorang peserta dengan nada sinis. Guru yang lain juga mencoba dengan ungkapan membandingkan "Si A bisa, kok kamu gak bisa?"



Menurut Ifa, kata-kata tersebut sering kita dengar di sekolah. Siapa pun siswanya, jika dihardik dengan pertanyaan itu, pasti merasa kesal pada guru.

Oleh karenanya, lanjut Ifa, untuk merangsang siswa berkarakter baik, dia mendorong para guru untuk tidak lagi menggunakan kata-kata 'kenapa' atau 'why'. Sebab, kata-kata tersebut kerap menyudutkan siswa. "Alangkah lebih baik diganti. Misalnya, bisa ceritain sama ibu, apa yang bikin kamu terlambat ke sekolah?" ujar Ifa mencontohkan.

Ifa mengungkapkan, pertanyaan-pertanyaan yang membuat kesal siswa tersebut terkesan sepele dan taktis langsung pada inti masalah. Namun, dari sisi kejiwaan, siswa menjadi tertekan dan bisa memantik mereka untuk memberontak. "Lebih jauhnya lagi, mereka akan mereplikasi ucapan tersebut kepada anak mereka kelak," imbuhnya.

Fakta di lapangan, banyak guru yang berharap anak didiknya berkarakter baik. Namun, untuk menopang harapan tersebut, pengetahuan guru belum menunjang. "Saya tersadar, untuk menuju ke arah sana (pendidikan karakter), tidak hanya siswa, tapi gurunya juga harus bagja (bahagia). Di sekolah, guru terbentur dengan aturan yang kadang kala menyeragamkan dalam memperlakukan siswa," ungkap guru Bimbingan Konseling (BK) SMAN 20 Bandung, Euis Sopiah.

Menurut dia, dengan karakternya yang unik, setiap siswa harus diperlakukan berbeda. Sehingga, potensi siswa tersebut bisa berkembang dan menjadi sumber daya manusia (SDM) yang unggul di kemudian hari. "Saya akan coba terapkan materi yang saya peroleh di Jabar Masagi dengan menerapkan pola perlakuan anak sesuai pada keberagamannya," janjinya.

Community Mobilizer Guru Masagi, Roswita Amelinda mengatakan, Class Series 2019-Komunitas Guru Masagi Final Season tersebut diikuti guru, kepala sekolah, pengawas dan lain-lain. Selain materi "Mengapa Remaja Suka Memberontak?", Class Series yang digelar selama dua hari itu juga memberikan materi tentang "Mengenal Embrio Korupsi Dalam Kegiatan Pembelajaran" yang disampaikan pengawas SMK Tini Sugiartini.

Lalu, materi "Strategi Inovatif Penguatan Pendidikan Karakter di SMAN 1 Lembang" oleh Suhendiana Noor dan "Komunikasi Membangun antara Guru dan Orangtua" oleh psikolog, trainer, dan penulis buku Aisya Yuhanida Noor.

"Antusiasme peserta sangat besar, di luar prediksi. Padahal kami tidak melayangkan surat penugasan, hanya membuka pendaftaran di media sosial. Hampir 27 kabupaten/kota pernah ikut dalam class series yang kami gelar," tutur perempuan yang akrab disapa Wita itu.

Dia menyebutkan, kehadiran guru dalam kegiatan tersebut sepenuhnya merupakan inisiatif sendiri serta menggunakan biaya pribadi atau mengusahakan dari sekolah. "Alhamdulillahnya, banyak kepala sekolah yang mendukung dan mengirim para gurunya di class series," ujarnya.

Disinggung mengenai output yang diharapkan dari class series tersebut, Wita mengaku, ingin melipatgandakan dampak dari para peserta kepada guru-guru di luar pelatihan. "Kami ingin Jabar Masagi ini dihayati dan dipraktikan oleh guru-guru yang tidak terbatas yang dipanggil ke pelatihan. Harapan lainnya, mereka saling menguatkan dalam komunitas Guru Masagi agar terus konsisten," lanjut Wita.

Ditanya soal tantangan mengaplikasikan praktik program Jabar Masagi di 27 kabupaten/kota di Jabar, Wita menyebut kemerdekaan guru menjadi salah satu penghambatnya. Sebab, banyak guru yang beranggapan tidak berdaya melakukan perubahan.

Tidak hanya pada program Jabar Masagi, menurut dia, banyak juga guru yang menganggap program dari pemerintah sebagai tugas tambahan yang membebani. Sementara tugas dia sendiri sebagai guru cukup banyak, mulai dari persyaratan administrasi hingga target sekolah untuk meloloskan anak dengan nilai yang tinggi dan lain sebagainya. "Guru yang bagja, adalah guru yang berdaya. Tujuan Jabar Masagi sebenarnya siswa yang bagja. Tapi kami percaya, siswa yang bagja bisa lahir dari guru bagja," sambungnya.

Wita menekankan, guru tidak akan mengalami perubahan ketika terus berpikiran sebagai bagian dari korban sistem dan tidak bisa berbuat apa-apa. "Pendidikan karekter tidak akan jalan jika mindsetnya, 'buat apa sih saya capek-capek mengerjakan ini, toh saya tidak akan naik pangkat karena menjalankan pendidikan karakter'. Kalau begitu terus, ya tidak akan maju-maju," tandasnya.



(awd)