alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Tarung Derajat Fokus Kepakkan Sayap di Tingkat Nasional

Agung Bakti Sarasa
Tarung Derajat Fokus Kepakkan Sayap di Tingkat Nasional
Sang Guru Muda Tarung Derajat, Badai Meganagara Dradjat menegaskan, di bawah kepemimpinan HT, pihaknya bertekad mengembangkan tarung derajat di seluruh pelosok wilayah Indonesia. Foto/SINDOnews/Agung Bakti Sarasa

BANDUNG - Di bawah kepemimpinan Ketua Umum Pengurus Besar Tarung Derajat (PB Kodrat) Hary Tanoesoedibjo (HT), cabang olahraga (cabor) tarung derajat fokus melakukan pengembangan di seluruh wilayah di Indonesia.

Diketahui, HT mengemban amanah sebagai Ketua Umum PB Kodrat periode 2017-2021 dan memiliki visi untuk mengangkat olahraga asli Indonesia ini mendunia. HT menginginkan, tarung derajat mengakar di Tanah Air dan dikenal luas serta disegani di dunia internasional.

Sang Guru Muda Tarung Derajat, Badai Meganagara Dradjat menegaskan, di bawah kepemimpinan HT, pihaknya bertekad mengembangkan tarung derajat di seluruh pelosok wilayah Indonesia. Hal itu akan diwujudkan, salah satunya melalui regenerasi petarung secara berjenjang, mulai dari usia dini, remaja, hingga senior.



"Di era kepemimpinan Hary Tanoe ini, kami ingin mengeembangkan tarung derajat mampu sampai ke tingkatan nasional, seluruh provinsi dikembangkan," ujarnya di sela pembukaan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas) XV Tahun 2019 Cabor Tarung Derajat di Youth Center Gelanggang Olahraga (GOR) Arcamanik, Kota Bandung, Sabtu (16/11/2019).

Tidak hanya regenerasi, lanjut pria yang akrab disapa Kang Badai ini, pengembangan juga dilakukan dalam melahirkan pelatih-pelatih tarung derajat yang andal. Bahkan, pihaknya menargetkan pencetakan 100 orang pelatih setiap tahunnya melalui kegiatan sertifikasi pelatih.

"Kami terus mencetak pelatih, mulai pelatih dasar, utama, hingga pembina. Kami mewajibkan setiap pelatih satlat (satuan latihan) memiliki sertifikasi pelatih," katanya.

Meski begitu, Kang Badai mengakui, kaderisasi pelatih tarung derajat ini tidak bisa dilakukan secara instan. Menurut dia, butuh waktu sedikitnya lima tahun untuk mencetak pelatih yang mumpuni.

"Salah satu strategi yang kami lakukan adalah dengan memperbanyak pertandingan, jadi kemampuan pelatih akan dibarengi dengan pengalaman menjadi seorang atlet," katanya.

Kendala lainnya, tambah dia, yakni tidak mudahnya melahirkan pelatih yang memiliki semangat juang yang tinggi. Pasalnya, seorang pelatih harus mampu mengabdi pada hobinya sekaligus mampu mengamalkan ilmu yang dimilikinya. "Artinya, pelatih tidak cengeng terhadap situasi dan kondisi yang tidak mendukung," ujarnya.

Terlepas dari berbagai kendala yang dihadapi, tambah Kang Badai, pihaknya akan terus berupaya semaksimal mungkin mengembangkan tarung derajat, agar visi menjadi cabor yang mendunia dapat terwujud.

Oleh karenanya, Kang Badai pun mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah dalam pembangunan di bidang olahraga, termasuk di dalamnya tarung derajat. Menurut dia, olahraga dapat menjadi benteng, khususnya bagi generasi muda, untuk menangkal berbagai pengaruh negatif dari perkembangan zaman.

"Seperti (menangkal bahaya) narkoba yang kini merajalela. Kalau pemerintah masih menomorduakan olahraga atau menempatkan olahraga di tempat ketiga atau empat dalam pembangunan, mau dibawa ke mana negara kita," tandasnya.



(zik)

Berita Terkait