alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Ini Kronologi Peristiwa Penembakan di Majalengka versi Korban Panji

Agus Warsudi
Ini Kronologi Peristiwa Penembakan di Majalengka versi Korban Panji
Panji Pamungkasandi, korban penembakan. Foto/SINDOnews/Agus Warsudi

BANDUNG - Peristiwa penembakan terhadap kontraktor Panji Pamungkasandi terjadi di Ruko Hana Sakura, Kecamatan Cigasong, Kabupaten Majalengka, pada Minggu 10 November 2019 sekitar pukul 23.30 WIB.

Kepada wartawan di Bandung, Selasa (12/11/2019), korban Panji menceritakan detik-detik peristiwa penganiayaan yang diduga dilakukan oleh Irfan Nuralam, anak kedua Bupati Majalengka Karna Sobahi itu terjadi. Irfan merupakan Kabag Ekonomi dan Pembangunan Pemkab Majalengka.

Panji menceritakan, peristiwa bermula ketika 12 pegawai perusahaan termasuk dirinya, pergi ke Majalengka saat Magrib untuk menagih sisa utang pembayaran proyek yang telah selesai dikerjakan pada April 2019 lalu senilai Rp500 juta. (BACA JUGA: Tagih Pembayaran Proyek, Kontraktor di Majalengka Ditembak)

Korban Panji dan rombongan tiba di Lingkungan Pusaka Indah, Cijati, Kabupaten Majalengka, lokasi pertemuan yang telah ditentukan oleh Andi, rekan Irfan, Minggu sekitar pukul 19.30 WIB.



Lantaran Irfan Nuralam masih berada di Kota Bandung, akhirnya Panji dan pegawainya menunggu. Selanjutnya, Irfan bersedia menemui Panji di kawasan Ruko Hana Sakura, Cigasong.

Maka, Panji dan kawan-kawan pun meluncur ke kawasan Ruko Hana Sakura. Di sana, mereka menunggu dan Panji tertidur di dalam mobil. Hingga pukul 22.00 WIB, belum terjadi apapun di lokasi kejadian. "Kami nunggu lama, jam 10 malam saya ketiduran di dalam mobil. Belum terjadi apa-apa," kata Panji.

Lalu, ujar Panji, pukul 23.30 WIB, dia mendengar dua kali suara ledakan pistol dan dibangunkan oleh orang-orang yang datang bersama Irfan. Di luar mobil, dia melihat ada sekitar 30 orang yang menganiaya para pegawainya. Akibat penganiayaan itu, tiga pegawai Panji menderita luka lebam.

Irfan kemudian merangkul Panji dan menggiringnya hingga beberapa langkah dari mobil. Ketika itu, Panji mendengar Irfan mengucapkan kata-kata, "Kamu di sini bikin masalah dan rusuh terus. Mau saya bunuh kamu".

Padahal, Panji datang ke Majalengka hanya hendak menagih utang pembayaran proyek dan tidak ada niat untuk membuat keribuatan. "Kami tidak ada niat bikin keributan, sajam (senjata tajam) pun tidak ada," ujar korban.

Selain mendengar kata-kata tersebut, saat dirangkul, Panji juga melihat pistol berada di genggaman tangan kanan Irfan yang ditodongkan lalu ditembakkan ke arahnya.

Panji reflek menepis pistol itu dan menghindar tapi peluru tetap mengenai telapak tangan kirinya. Selanjutnya, peluru mengenai paha H, anak buah Irfan. "Ada dua (yang kena tembakan), saya dan orang Pak Irfan," tutur Panjir.

Setelah penembakan itu, Panji dibawa Irfan ke kantor di kompleks Ruko Hana Sakura. Di dalam kantor itu, Irfan melemparkan uang Rp500 juta lalu diinjak-injak. Uang itu pun ternoda darah yang mengucur dari tangan kiri Panji.

Selanjutnya Panji ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Majalengka mendapat penanganan medis. Panji mendapat enam jahitan di luka bekas tembakan di telapak tangan kiri. Kemudian, Panji dan pegawainya melapor ke Polres Majalengka.

Di kantor polisi, ungkap Panji, dirinya dan pegawainya sempat digeledah polisi. Namun petugas Polres Majalengka tak menemukan barang berbahaya apapun karena tidak ada niat untuk berbuat onar.

"Kami digeledah semua. Kami tidak ada sajam dalam bentuk apapun. Setelah itu saya balik lagi ke RS untuk memastikan luka saya. Besoknya (Senin 11 November 2019), saya kembali ke Bandung," ungkap Panji.

Sebelum memutuskan pulang ke Bandung, Panji sempat menunggu itikat baik dari Irfan Nuralam untuk menyampaikan permintaan maaf atas peristiwa itu.

Dia pun berharap pihak kepolisian mengusut tuntas kasus penganiayaan yang menimpa diri dan pegawainya. "Awalnya sih harapan saya menguggu satu hari ada konfirmasi. Ternyata tidak ada iktikad baik dari Irfan untuk meminta maaf," pungkas dia.



(awd)