alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Potensi Konflik Pilkades Serentak di KBB Dinilai Sangat Terbuka

Adi Haryanto
Potensi Konflik Pilkades Serentak di KBB Dinilai Sangat Terbuka
Panitia tingkat Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar, KBB, sedang rapat persiapan pilkades beberapa waktu lalu. Potensi konflik Pilkades Serentak KBB dinilai cukup tinggi. Foto/Dok.SINDOnews

BANDUNG BARAT - Semua desa yang menggelar Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Serentak 2019 di Kabupaten Bandung Barat (KBB) memiliki potensi konflik yang merata.

Karena itu, Pemda KBB dan aparat kepolisian melakukan pengawasan dan pengamanan yang lebih ketat dalam pelaksanaan pilkades yang akan digelar serentak pada 24 November 2019 mendatang.

Kabid Penataan Pengelolaan Keuangan dan Aset Desa, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) KBB Rambey Solihin mengatakan, desa yang paling padat penduduknya rawan terjadi konflik. Apalagi jika dalam kegiatanya tidak dilaksanakan sesuai Perbup Nomor 35/2019 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pilkades.



"Memang secara analisis mana-mananya belum terlihat nyata, tapi prinsipnya semua desa itu berpotensi terjadi konflik dalam pilkades," kata Rambey, Senin (11/11/2019).

Menurut dia, banyaknya jumlah calon juga menjadi persoalan tersendiri. Padahal satu desa maksimal calon adalah lima orang. Atas hal tersebut, pihaknya sudah mempersiapkan pengamanan dengan melibatkan unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) dan kepolisian dari Polres Cimahi serta TNI.

Tujuannya untuk meminimalisasi potensi konflik yang semakin meluas. "Dukungan dari Polres Cimahi dan Kondim sangat penting. Jadi pengamanan sudah kami siapkan. Ini kan pesta demokrasi tingkat desa paling besar karena digelar di 112 desa dengan pendaftar sebanyak 553 calon," ujar dia.

Sementara itu, pengamat politik dan pemerintahan dari Universitas Jenderal Ahmad Yani (Unjani) Cimahi Arlan Sidha mengatakan, tingginya minat masyarakat KBB untuk mencalonkan diri sebagai kepala desa (kades) salah satunya karena faktor kucuran dana desa dari pemerintah pusat.

Hal itu yang membuat semangat masyarakat untuk menjadi kades tinggi, karena ingin membenahi desa dengan anggaran yang cukup besar.

"Ekspektasi mereka (calon kades) di KBB untuk membangun desa masing-masing sangat tinggi. Menurut saya hal ini sangat luar biasa. Artinya ada antusiasme tinggi dari masyarakat. Tahun ini banyak incumbent juga yang kembali mencalonkan diri sebagai kades atau sekitar 50%-nya," kata Arlan.

Dia mengemukakan, secara politik incumbent akan memiliki peluang sangat tinggi untuk kembali terpilih menjadi kepala desa. Sebab, karena secara elektabilitas sudah dikenal masyarakat.

Incumbent juga sudah memperlihatkan kerja nyata selama menjabat sebagai kepala desa dengan menggunakan dana desa, seperti memperbaiki jalan dan membuat program yang lain untuk mensejahterakan rakyat. Itu adalah bukti dan modal nyata bagi mereka untuk leading selangkah di depan dari calon pendatang baru.

"Kalau incumbent benar-benar membangun desanya dengan dana desa itu, saya kira mereka tidak akan kesulitan untuk bisa menang dipilih lagi," tutur dia.



(awd)