alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Ribuan Guru Ajak Nadiem Diskusi soal Uji Kompetensi

Arif Budianto
Ribuan Guru Ajak Nadiem Diskusi soal Uji Kompetensi
IKA Pendidikan Sejarah UPI bakal menggelar seminar terkait UKG yang dinilai kurang tepat. Foto/SINDOnews/Arif Budianto

BANDUNG - Ribuan guru dari berbagai daerah di Indonesia dijadwalkan bakal hadir pada kegiatan seminar yang membahas uji kompetensi guru (UKG).

Mereka bakal mengundang Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim hadir membahas UKG yang dinilai kurang tepat dijadikan standar penilaian terhadap guru.

"Kami ingin memberi koreksi bagaimana penilaian kompetensi guru mestinya dilakukan. Karena UKG sekarang ini cenderung menjadi instrumen utama menilai kompetensi guru. Sementara pakar menyebut UKG tidak bisa sepenuhnya menjadi acuan atas keahlian guru," kata Sekretaris IKA Pendidikan Sejarah Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Najip Hendra SP di Kampus UPI, Jalan Setiabudi, Kota Bandung, Senin (11/11/2019).



Persoalan ini mencuat setelah hasil uji kompetensi guru (UKG) menunjukkan bahwa guru kompeten atau lulus dengan nilai minimal 80, tak lebih dari 30%. Artinya, 70% guru berkategori tidak kompeten.

Menurut dia, bahasan terkait UKG bakal diurai melalui seminar “Revitalisasi Profesionalisme Guru” di Gedung Achmad Sanusi, kampus Bumi Siliwangi UPI, Sabtu, 7 Desember 2019 mendatang.

Pihaknya akan mencoba menyandingkan pendapat pakar, mendikbud, dan guru pada satu tempat. Seminar mencoba mendudukan seperti apa guru profesional kalau diukur berdasarkan UKG.

Menurut dia, hasil seminar akan disampaikan kepada Mendikbud Nadiem Makarim sebagai masukan dari komunitas guru dan alumni lembaga pendidikan tinggi kependidikan (LPTK). IKA Pendidikan Sejarah menilai perlu memberikan masukan secara khusus kepada menteri milenial tersebut.

Bukan tanpa alasan, Menteri Nadiem merupakan sosok yang selama ini tidak beririsan dengan profesi guru. Karena itu, perlu input memadai untuk merumuskan kebijakan tentang guru.

“Hasil seminar ini akan kami sampaikan kepada Mendikbud. Kebetulan Mas Menteri sudah dengan tegas menyatakan untuk mendengarkan masukan dari pakar dalam 100 hari pertama jabatannya. Mudah-mudahan perpaduan antara kajian regulasi, kritik ahli, pengalaman di lapangan, dan benchmarking lembaga pendidikan internasional dalam seminar ini bisa menjadi salah satu pertimbangan Mas Menteri dalam membuat kebijakan,” ujar dia.

Ketua Panitia Seminar Luqman Amin mengklaim sedikitnya 1000 guru dari berbagai kota di tanah air bakal menghadiri kegiatan ini. Sebagian besar peserta berasal dari Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten.

Di luar itu, terdapat peserta dari Bangka Belitung, Maluku, Pekanbaru, Medan, dan Nusa Tenggara Timur. Para guru mendaftar melalui formulir online pada Google Forms.

“Kami tidak menyangka respons para guru demikian luar biasa. Pada mulanya panitia berencana membuka pendaftaran selama satu bulan. Kami kaget ternyata guru sangat antusias. Beberapa jam setelah pengumuman pendaftaran, kuota peserta langsung ludes. Semula kami menargetkan 250 peserta. Ternyata, dalam lima jam setelah dibuka, pendaftar sudah mencapai 331 orang,” jelas Luqman.

Di luar 331 orang pendaftar online, panitia juga kewalahan menerima pendaftar offline alias manual melalui layanan pesan WhatsApp (WA).

Jumlahnya jauh lebih banyak dari pendaftar online. Setelah direkap, total mencapai 950-an pendaftar. Panitia pun sepakat mencari alternatif tempat lebih besar.

Pilihan jatuh ke Balai Pertemuan UPI Achmad Sanusi. Gedung ini satu-satunya ruang konvensi yang mampu memuat hingga 1.000 orang.



(awd)