alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Pemotor Jarang Terlihat di Tokyo, Ini Penyebabnya

Dzikry Subhanie
Pemotor Jarang Terlihat di Tokyo, Ini Penyebabnya
Kota Tokyo, Jepang. Foto/SINDOnews/Dzikry Subhanie

TOKYO - Jika berkunjung ke Tokyo, Jepang, bisa dipastikan kita akan sangat jarang melihat orang mengendarai sepeda motor di jalanan Ibu Kota Jepang tersebut. Ada beberapa penyebab orang Jepang enggan menggunakan sepeda motor.

Beberapa waktu lalu, SINDOnews berkesempatan mengunjungi Tokyo selama lima hari. Selama itu pula SINDOnews jarang melihat sepeda motor lalu-lalang di jalanan Tokyo. Kalaupun terlihat, jumlahnya bisa dihitung dengan jari dan itu adalah mereka yang bekerja di jasa antar makanan.

Kebanyakan warga Tokyo memilih beraktivitas menggunaan transportasi umum seperti bus dan taksi. Dan, yang jadi favorit adalah transportasi massal seperti kereta api. Untuk beralih dari stasiun kereta menuju halte bus dan tempat pemberhentian taksi atau sebaliknya, mereka memilih berjalan kaki. Begitu pula dari stasiun menuju kantor, sekolah, atau sebaliknya, mereka memilih berjalan kaki. (Baca juga: 6 Hal Ini Akan Anda Lihat saat Kunjungi Tokyo).



Di sisi lain, sebagian warga Tokyo lainnya lebih senang bersepeda. Karena itu, jika kita berkunjung ke Tokyo, nyaris tak akan melihat pesepeda motor bermanuver di tengah macetnya jalanan kota, seperti yang sering terlihat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia.
Tokyo, Jepang. Foto/SINDOnews/Dzikry Subhanie
Kita pun tidak akan melihat pemotor yang merokok lalu membuang puntung rokok di aspal. Selain itu, tak terdengar klakson motor bersahut-sahutan di dekat lampu pengatur lalu lintas saat lampu hijau baru saja menyala. Dan, tak ada kumpulan pesepeda motor yang parkir atau berhenti di sisi jalan yang menghambat arus lalu lintas. (Baca juga: Nyamannya Berjalan Kaki di Trotoar Tokyo).

Mahalnya biaya membuat SIM (Surat Izin Mengemudi) di Jepang bisa jadi salah satu penyebab mereka enggan menggunakan sepeda motor. Menurut Lucky Rahardi, WNI yang tengah berdinas di Tokyo, biaya pembuatan SIM motor sekitar 70 ribu yen atau lebih dari Rp9.100.000. Namun, jika seseorang telah memiliki SIM mobil, biayanya 30 ribu yen. Sementara, biaya pembuatan SIM mobil 300.000 yen.

"Mereka yang ingin punya kendaraan biasanya membayar untuk asuransi lain, dan biayanya lumayan mahal," kata Lucky.
Tokyo, Jepang. Foto/SINDOnews/Dzikry Subhanie
Selain SIM, mahalnya harga bensin juga kemungkinan menjadi hal yang membuat orang Jepang menggunakan motor. Untuk diketahui, di Tokyo harga seliter bensin kelas Pertamax Plus 140 yen atau sekitar Rp18.200. Sementara, kelas Pertamax 130 yen atau sekitar Rp16.900 per liter.

Hal yang lain yang membuat mereka malas naik motor adalah biaya parkir. Karena di Tokyo tidak ada parkiran khusus motor, kendaraan roda dua itu harus parkir di parkiran mobil. Tarifnya sebesar 500 yen atau Rp65 ribu per 30 menit. Sementara, tarif parkir sepeda 100 yen per jam atau Rp13 ribu.

Bahkan, khusus untuk sepeda bisa bebas biaya parkir di sekitaran jalan, trotoar, atau di sekitar supermarket. "Syaratnya, parkirnya tidak terlalu lama," ujar Lucky.



(zik)