alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Atap Gedung Baru DPRD Kota Bogor Ambruk, Bima Arya: Kualitas Fisik Bangunannya Sangat Buruk

Haryudi
Atap Gedung Baru DPRD Kota Bogor Ambruk, Bima Arya: Kualitas Fisik Bangunannya Sangat Buruk
Sejumlah pekerja melakukan perbaikan atap Gedung DPRD Kota Bogor yang ambruk akhir pekan lalu.Foto/SINDOnews/Haryudi

BOGOR - Belum genap satu tahun, atap gedung baru Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor, tepatnya di lantai 4 ruang paripurna, ambruk pada akhir pekan lalu. Tak ada korban jiwa dalam kejadian ambruknya gedung senilai Rp70 miliar itu, namun kerugian ditaksir mencapai ratusan juta rupiah.

Peristiwa tersebut juga membuat kerusakan pada sebagian fasilitas penunjang rapat yakni mebeuler senilai Rp12 miliar. Sekretaris DPRD Kota Bogor Boris Derarusman mengatakan, peristiwa itu terjadi pada Sabtu, 27 Oktober 20919 petang, saat sebagian wilayah Bogor diguyur hujan deras disertai angin kencang.

Tiba-tiba saja atap bangunan di lantai 4 ambruk dan menimpa mebeuler (kursi dan meja) ruang rapat paripurna. "Penyebab ambruknya sebagian atap tersebut akibat angin disertai hujan deras yang melanda Kota Bogor Sabtu kemarin," kata Boris pada Senin (28/10/2019).



Saat ini, lanjut Boris, pihaknya masih melakukan perbaikan atap gedung dewan yang ambruk tersebut dan diprediksi selesai pada Kamis, 31 Oktober 2019. "Mudah mudahan Kamis atau Jumat sudah selesai diperbaiki," katanya.

Boris menegaskan, ambruknya atap tersebut murni akibat angin dan hujan besar, bukan karena karena rapuhnya bangunan yang baru diresmikan April lalu.

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Bogor Atang Trisnanto saat dikonfirmasi terkait ambruknya gedung wakil rakyat itu disinyalir karena kualitas konstruksi tidak memadai, pihaknya enggan berkomentar banyak.

"Soal teknis pembangunan yang paham itu ahli bangunan, tapi dilihat sekilas, bangunan setinggi lima lantai dengan dinding yang tanpa penguat beton, kondisinya sangat mengkhawatirkan. Jadi ini sesuatu yang riskan, apalagi ini adalah gedung publik yang mana kami harapkan gedung ini adalah menjadi tempat tinggal dan berkumpulnya warga masyarakat Kota Bogor," ungkapnya.

Namun, pihaknya menilai, kualitas bangunan terkesan rapuh. Untuk itu pimpinan DPRD berpendapat perlu ada penyelidikan dan pemeriksaan lebih lanjut. "Ya, lihat dulu dari perencanaannya, kemudian juga dari sisi pelaksanaan. Apakah kemudian ada kesalahan atau tidak terpenuhinya beberapa standar maupun prosedur. Kami berharap pihak yang berwenang bisa melakukan pemeriksaan secara lebih lanjut," ujarnya.

Di tempat terpisah, Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menilai tak ada alasan soal penyebab hujan dan angin kencang untuk bangunan di Kota Bogor, karena seharusnya kondisi cuaca itu sudah diperhitungkan sebelumnya.

"Kami lihat justru kualitas fisik bangunannya yang memang sangat buruk. Kami lihat tadi, tinggal menunggu waktu saja ambruknya. Alhamdulillah ini terjadi ketika tidak ada kegiatan, bisa dibayangkan ketika ada paripurna di situ. Kan pas di bawahnya ada saya dan pimpinan dewan," ujar Bima.

Bahkan, kata dia, jika melihat sekilas terkait konstruksi bangunan lima lantai ini ada dugaan beberapa bagian pada bangunan itu tidak dikerjakan atau tidak dibangun sebagaimana mestinya. "Jadi struktur fondasinya sangat rapuh, makanya terkena angin kencang sedikit bisa ambruk. Terlihat tadi juga tidak ditunjang oleh pilar-pilar yang kuat, karena ini soal keselamatan, maka mulai besok harus dikaji, setiap sudut dilihat lagi termasuk ruangan ruangan dewan semuanya dilihat lagi," tegasnya.

Pihaknya memohon kerja sama dengan anggota DPRD Kota Bogor agar bisa mengatur waktu agar kajian bisa segera dilakukan. "Sebab anggaran tidak kecil yakni, Rp70 miliar lebih. Persoalannya apakah ini tidak sesuai dengan perencanaan. Berarti ada sesuatu disini mengapa tidak sesuai dengan perencanaan, dilihat tadi tidak mungkin gedung sekokoh ini temboknya setipis itu. Tim akan segera turun untuk mendalami ini, koordinasi dengan pihak-pihak yang diperlukan, kami akan melihat dokumen-dokumen perencanaannya seperti apa," ucapnya.



(zik)