alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

PLN Kembangkan PLT Piko Hidro untuk Terangi Papua

Agung Bakti Sarasa
PLN Kembangkan PLT Piko Hidro untuk Terangi Papua
Foto/SINDONews/Dok/Ilustrasi

BANDUNG - PT PLN (Persero) fokus mengembangkan pembangkit listrik tenaga piko hidro (PLTPH) guna menerangi Provinsi Papua dan Papua Barat.

Pembangkit berkapasitas sangat kecil tersebut dinilai cocok dikembangkan berdasarkan hasil survei pemetaan sistem kelistrikan di Bumi Cendrawasih itu.

Dengan melibatkan kelompok mahasiswa pencinta alam (Mapala) dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Cendrawasih, Lapan, TNI AD, dan PLN menggelar Ekspedisi Papua Terang (EPT).



Terobosan PLN tersebut rupanya berbuah gemilang. Dari target survei 415 desa, tim EPT mampu memetakan sistem kelistrikan yang akan dibangun di 841 desa di Papua dan Papua Barat. Data tersebut kemudian ditindaklanjuti dengan pemancangan program "1000 Renewable Energy for Papua".

Program inilah yang mengeksekusi hasil survei EPT. Desa pertama yang dilistriki dengan PLTPH tersebut, yakni Kampung Kwaedamban, Distrik Bormeo, Pegunungan Bintang pada pertengahan Oktober 2018.

Meski berlokasi di pedalaman Pegunungan Bintang, namun kampung ini memiliki prasyarat yang tepat untuk dialiri listrik dengan PLTPH, di antaranya potensi aliran air bagus, kondisi keamanan kondusif, dan seluruh masyarakat mendukung serta membantu program pembangunannya

Kepala Divisi Konstruksi Regional Maluku dan Papua PT PLN (Persero) Robert Aprianto Purba menjelaskan, PLTPH merupakan pembangkit listrik tenaga air berkapasitas sangat kecil, yakni 1-100 KWH.

Jauh di bawah cara kerjanya, air yang telah dibendung dialirkan ke dalam bak penampung yang berisi turbin sehingga aliran air akan memutar turbin tersebut. Selanjutnya turbin akan memutar generator yang pada akhirnya menghasilkan listrik.

"Piko Hidro hanya butuh ketinggian air 1-3 meter dan debit 30 liter per detik. Jadi cocok digunakan di daerah terpencil," jelas Robert dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Senin (14/10/2019).

Keunggulan lainnya, lanjut Robert, biaya investasi PLTPH pun tergolong murah, yakni sekitar Rp30 juta per unit dengan biaya pemeliharaan yang minimum dan tidak memerlukan biaya bahan bakar.

"Piko Hidro ini pun mudah dirakit dan dioperasikan serta bisa beroperasi selama 24 jam sesuai dengan debit air. Teknologi ini membuatnya cocok untuk diterapkan di daerah terpencil yang memiliki debit air yang sesuai," katanya.

Berkat PLTPH berdaya 1 KWH yang memanfaatkan aliran air sungai Wapra itu, maka 37 rumah di Kwaedamban kini bisa menikmati terang di waktu malam.

"Itulah manfaat dari survei Ekspedisi Papua Terang, memetakan sumber pembangkit yang cocok untuk setiap desa di Papua. Dengan demikian, pembangkit yang kami bangun bisa sesuai dengan karakteristik alam setempat sehingga diharapkan dapat bertahan dalam jangka panjang," katanya.

Diketahui, dibandingkan 32 provinsi lain di Indonesia, rasio elektrifikasi di Papua dan Papua Barat masih tertinggal. Sesuai data yang dipaparkan Direktur Bina Program Kelistrikan Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jisman S, untuk mencapai rasio desa berlistrik (RDB) 100 persen di Provinsi Papua dan Papua Barat pada 2020, masih ada 414 desa dengan 78.000 rumah yang harus dilistriki.

Berdasarkan data Kementrian ESDM, RDB di Provinsi Papua dan Papua Barat saat ini adalah 98,3 persen yang dicapai melalui kontribusi PLN (48,5 persen), program LTSHE (Lampu Tenaga Surya Hemat Energi) dari Kementerian ESDM dan listrik swadaya inisiatif pemda-pemda setempat. Sementara tingkat rasio elektrifikasi nasional PLN mencapai 98,86 persen.

PLN berencana mengakhiri kegelapan malam di Papua dengan melistriki 1.724 desa di sana. Dengan demikian, target besarnya, pada akhir 2020, rasio elektrifikasi nasional mencapai 99,9 persen.

Untuk mewujudkan rencana besar tersebut, langkah awal yang diperlukan adalah merancang survei untuk memetakan ssstem kelistrikan yang tepat untuk pedesaan Papua yang memiliki bentang alam yang sangat beragam lewat program EPT.

Berkat perjuangan tim EPT, kini terkumpul data akurat metode yang dianggap tepat untuk melistriki ratusan desa di Papua dan Papua Barat. Rinciannya, 39 desa direncanakan menggunakan teknologi tabung listrik (talis).

Sebanyak 41 desa menggunakan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) dan PLTPH, 179 desa rencananya akan disambungkan ke sistem jaringan listrik (grid) PLN yang telah ada.

Kemudian, 286 desa akan menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) dan biomassa (PLTBm), serta selebihnya 297 desa akan diterangi dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan biomassa (PLTBm).



(awd)