alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Persaingan Profesi Kefarmasian Ketat, Unjani Luluskan 196 Apoteker Baru

Adi Haryanto
Persaingan Profesi Kefarmasian Ketat, Unjani Luluskan 196 Apoteker Baru
196 apoteker baru, lulusan Fakultas Farmasi Unjani saat diambil sumpah dalam sidang terbuka di Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, KBB, Rabu (2/10/2019). Foto/SINDOnews/Adi Haryanto

BANDUNG BARAT - Sebanyak 196 apoteker baru diambil sumpahnya dalam sidang terbuka Senat Fakultas Farmasi Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Cimahi di Mason Pine Hotel, Kota Baru Parahyangan, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Rabu (2/10/2019).

Pengambilan sumpah dan penyerahan ijazah profesi apoteker angkatan XXVI dipimpin langsung oleh Rektor Unjani Witjaksono. Turut mendampingi wakil rektor, dekan fakultas, dan dihadiri pula oleh pengurus pusat Ikatan Apoteker Indonesia, perwakilan dari Komite Farmasi Nasional, Ketua IDI, Kepala Rumkit Dustira, serta orang tua para lulusan.

Tutus Gusnidar yang hadir mewakili Ketua Komite Farmasi Nasional, Purwadi, menyebutkan dari tahun ke tahun lulusan apoteker terus bertambah.



Berdasarkan data apoteker sampai 2 Oktober 2019 terdapat total sebanyak 80.326 apoteker yang terdiri dari laki-laki 17.721 (22,06%) dan perempuan 62.605 (77,94%).

Jumlah itu tersebar di seluruh Indonesia, terlebih sejak tahun 2015, Kementerian Kesehatan telah menyebarkan petugas melalui Program Nusantara Sehat sebanyak 438 tenaga kefarmasian dari 3.662 tenaga kesehatan yang ditempatkan pada 510 lokus puskesmas di 29 provinsi.

"Semakin banyaknya jumlah apoteker semakin kompleks juga persoalan yang dihadapi. Salah satu permasalahan serius yang harus dihadapi oleh apoteker adalah munculnya obat-obat kedaluwarsa yang dikemas ulang lalu didistribusikan ke apotek-apotek. Hal itu menuntut apoteker agar lebih waspada dan teliti dalam memeriksa nama dan komposisi obat," tutur dia.

Rektor Unjani Witjaksono mengatakan, tantangan lulusan apoteker ke depan akan semakin berat. Hal ini terkait dengan krisis integritas dalam konteks persaingan profesi yang semakin terbuka. Karenanya apoteker dituntut memiliki pola pikir yang unggul, penuh inovasi, memiliki kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan yang dinamis, agar dapat bertahan dan mengembangkan karir.

"Apoteker yang diambil sumpahnya hari ini telah melalui Ujian Kompetensi Apoteker Indonesia (UKAI) dengan tingkat kelulusan tepat waktu 97,48% dan IPK rata-rata 3,51. Ini tentunya sangat membanggakan dan meningkatkan reputasi Fakultas Farmasi Unjani sebagai unggulan di tingkat nasional," kata Witjaksono.

Menurut Rektor, itu dibuktikan dari 196 lulusan apoteker tersebut, terdapat 21 apoteker yang menyandang lulusan dengan predikat 'Pujian'. Guna meningkatkan kualitas lulusan Fakultas Farmasi juga setahun sekali selalu melakukan evaluasi kurikulum.

Hasilnya banyak lulusan apoteker Farmasi Unjani yang diserap langsung oleh dunia kerja seperti di rumah sakit, industri, Pedagang Besar Farmasi (PBF), dan lain-lain.

"Kami berharap para lulusan ini terus mengembangkan kemampuan dan pengetahuan agar bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman," pungkas dia.



(awd)