alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Demonstrasi Ricuh, Polisi Identifikasi Kelompok Provokator

Agus Warsudi
Demonstrasi Ricuh, Polisi Identifikasi Kelompok Provokator
Demonstans melawan petugas dengan melemparkan batu dan bom molotov di depan Gedung DPRD Jabar.

BANDUNG - Pihak kepolisian mengidentifikasi kelompok provokator yang memicu kericuhaan saat mahasiswa dan pelajar melakukan unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 30 September 2019 malam.

Kelompok itu memicu kericuhan dengan melemparkan batu dan benda-benda keras lainnya ke arah petugas keamanan, Polri dan TNI.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, kelompok yang diduga mengawali kerusuhan masih dilakukan penyelidikan leih dalam. Namun, indikasinya mengarah pada kelompok Anarko.



"Di jalan rata-rata banyak coretan A dilingkari dengan beberapa kata kata yang tidak layak dan bersifat ujaran kebencian," kata Truno.

Menurut Kabid Humas, semula aksi unjuk rasa berjalan tertib saat gelombang massa aksi berdatangan sejak pagi hingga siang. Namun, situasi memanas saat petang, ketika massa melemparkan batu ke arah polisi.

Selain itu, massa aksi juga melakukan vandalisme, memecahkan pot tanaman, dan merobohkan pagar. Bahkan tak sedikit dari demonstran yang menggunakan bom molotov untuk menyerang petugas. 

"Ada beberapa kelompok yang ikut dalam aksi, ada pelajar, mahasiswa, dan ada kelompok yang bukan dari keduanya. Itu indikasi yang kami lihat saat melakukan pengamanan. Karena ada aksi anarkistis, kepolisian perlu melakukan pembubaran agar massa menjauh dari DPRD dan membubarkan diri," kata Truno.

Saat melakukan pembubaran massa, ujar Truno, polisi terpaksa menggunakan water cannon dan gas air mata. Penggunaan dua alat itu sesuai prosedur agar massa menjauh dari gedung DPRD Jabar.

Mereka kemudian terkonsentrasi di beberapa titik. Di antaranya, di jalan Trunojoyo, Jalan Surapati, Monumen Perjuangan Rakyat Jabar, dan Lapangan Gasibu.

"Malam hari, situasi berhasi dikendalikan dan kondusif. Pengunjuk rasa membubarkan diri. Sejumlah pendemo diamankan di halaman Gedung Sate," ujar Truno.

Namun Truno tak bisa memastikan berapa jumlah demonstran yang diamankan. Namun, mereka yang diamankan dari kelompok mahasiswa, pelajar SMA, dan di luar dari keduanya.

"Ada puluhan (yang diamankan) dibawa ke halaman depan Gedung Sate. Tapi semuanya sudah pulang dan dijemput orang tua," tutur dia.

Namun dari puluhan demonstran yang diamankan itu, ungkap Kabid Humas, ada dua yang diperiksa lebih lanjut. Dua orang itu berstatus residivis dan diduga menjadi provokator kericuhan.

"Dua orang itu masih kita dalami oleh polrestabes bandung dan Ditkrimum Polda Jabar. Apabila terdapat unsur pidana akan proses sidik," kata dia.

Selain itu, pihak kepolisian akan berkoordinasi dengan dinas terkait dari pemerintah, organisasi pendidikan dan pihak sekolah untuk menjaga pelajar agar tidak mengikuti aksi unjuk rasa yang mengarah kepada kericuhan.

Hal ini sesuai Uu Nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dalam Pasal 15 undang-undang tersebut menyebutkan, anak harus dilindungi dari pelibatan kekerasan atau unsur politik.



(awd)