alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Stok Beras 250.000 Ton, Bulog Subang Pastikan Aman hingga Tahun Depan

Didin Jalaludin
Stok Beras 250.000 Ton, Bulog Subang Pastikan Aman hingga Tahun Depan
Foto/SINDONews/Dok/Ilustrasi

SUBANG - Bulog Sub Divisi Regional (Divre) Subang memastikan kemarau panjang tahun ini tidak berdampak signifikan terhadap persediaan pangan di Jawa Barat, terutama di wilayah Subang dan Purwakarta.

Stok beras sangat melimpah dan masih cukup untuk memenuhi kebutuhan sampai akhir tahun, bahkan tahun depan. Dipastikan tidak perlu ada impor untuk menambah stok beras.

Kepala Sub Divre Bulog Subang Dandy Arianto mengatakan, saat ini stok beras di sejumlah Gudang Bulog Subang mencapai 240 ribu ton.



Jumlah tersebut, kata Dandy, lebih tinggi dari batas aman kecukupan beras. "Dengan begitu persediaan beras aman, bahkan hingga tahun depan. Meskipun ada ancaman kemarau," kata Dandy, Jumat (13/9/2019).

Sebelumnya Bulog Subang memaksimalkan serapan beras dari petani lokal hingga 100 ton/perhari. Jumlah itu sudah baik dan aman memenuhi kebutuhan stok beras untuk masyarakat.

Apalagi saat memasuki panen raya, stok beras di gudang bulog dari petani lokal sangat melimpah. "Bulog juga telah memperhitungkan penyaluran beras bantuan pangan non-tunai. Stok yang ada lebih dari cukup dengan kualitas baik," ujar dia.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Subang Djaja Rohadamadja mengemukakan, dari total luas sawah di Subang yang mencapai 58.447 hektare, 6.348 hektare di antaranya berpotensi mengalami kekeringan hingga gagal panen.

"Saat ini, berdasarkan laporan yang sudah benar-benar terkena dampak kekeringan baru seluas 926 hektare," ujar Djaja.

Berdasarkan data dari Balai Perlindungan Tanaman Pangan dan Hortikultura Wilayah II, keadaan bencana alam kekeringan musim tanam (MT) 2019 di Subang hingga 2 Juli 2019 mencapai 1.937 hektare. Bila benar terjadi, kata Djaja, diprediksi mengancam produksi padi sebanyak 2.714,9 ton atau senilai Rp13 miliar.

Saat ini kekeringan akibat kemarau terjadi di Kecamatan Cipunagara, Pagaden, dan Pagaden Barat. Areal pesawahan di wilayah itu mengering tidak terariri air sejak kemarau melanda tiga bulan terakhir. Akibatnya, sebagian tanaman padi layu dan mengering.

Camat Cipunagara Ubay Subarkah mengungkapkan, kekeringan di wilayahnya sudah menjadi langganan setiap musim kemarau tiba. Namun, kata Ubay, kemarau kali ini bisa dikatakan ekstrem. Bahkan, keluhan kekeringan dari petani sudah terdengar sejak satu bulan hujan tidak turun.

"Di daerah ini saja, dari 4.989 hektare sawah dengan usia tanaman padi berkisar kurang satu bulan, sebagian besar kekurangan air. Kekeringan bisa terus meluas jika musim kemarau berkepanjangan," ujar Ubay.

Menurut dia, kekeringan yang berdampak pada areal pertanian ini sudah dilaporkan. Pihaknya bersama Dinas Pertanian Subang tengah berusaha maksimal menangani persoalan yang menimpa para petani padi tersebut.

"Salah satunya dengan sistem pompanisasi dengan mengambil air dari sumber air Situ Pendeuy, Situ Saradan, dan Sungai Cileuleuy," ujar dia.



(awd)