alexametrics
more
TOPIK TERPOPULER

Serangan Kutu Daun Membuat Hasil Panen Petani Semangka Tidak Maksimal

Inin Nastain
Serangan Kutu Daun Membuat Hasil Panen Petani Semangka Tidak Maksimal
Semangka yang baru dipanen petani di Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. Foto/SINDOnews/Inin Nastain

MAJALENGKA - Beberapa minggu terakhir, petani semangka di Majalengka, Jawa Barat, mulai melakukan aktivitas panen. Namun, masuknya musim panen ini tidak lantas membuat petani benar-benar semringah. Pasalnya, tanaman semangka mereka tidak bisa berbuah secara maksimal.

Sebagaimana umumnya petani yang senantiasa dihantui serangan hama, hal itu juga dialami oleh para petani semangka di Desa Sukamulya, Kecamatan Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. Serangan hama kutu daun membuat panen tidak maksimal.

"Dalam satu kali tanam, normalnya itu bisa metik tiga sampai empat kali. Kalau sekarang mah dua kali saja sudah bagus. Ini (musim petik) yang pertama saja sudah seperti ini daunnya, kena medong (kutu daun)," kata salah satu petani semangka, Wasdam saat berbincang dengan SINDOnews di kebunnya, Sabtu (7/9/2019).



Dalam kondisi normal, dari tanaman seluas 300 bata (1 bata=14 meter), bisa memanen sekitar 3 ton. Namun, melihat kondisi yang terjadi saat ini, hasil panen dipastikan turun drastis.
Hama kutu daun. Foto/SINDOnews/Inin Nastain
Serangan hama medong bukan pertama kali terjadi. Tahun lalu, hal serupa juga sudah dialami mereka. Selain serangan medong, kondisi alam juga memicu hasil panen mereka kurang bagus."Anginnya terlalu kenceng. Untuk serangan medong mah sudah dari tahun lalu," kata dia.

Hasil panen yang kurang maksimal bukan satu-satunya permasalahan yang mereka hadapi. Dalam hal penjualan, harga semangka mereka pun cenderung sangat rendah. Sekitar satu minggu lalu, harga semangka mereka dibanderol sebesar Rp2.700 per kilogram.

"Di sini ada dua jenis semangka yang ditanam, ada semangka bulat dan inul (lonjong). Yang inul sekarang sudah lumayan bagus, tadi pagi saya ada yang minta Rp2.800 per kilogram. Kalau yang bulet mah di bawah Rp2.000 per kilogramnya. Inul lebih manis," jelas dia.

Mereka menjual semangka yang baru dipanen itu ke bandar. "Kalau yang sudah punya lapak mah ya ke lapak," ujarnya.

Kendati hasil panen mereka cenderung gagal, tetapi tidak tampak wajah putus asa yang berlarut. Saat di kebun, canda tawa masih kerap terdengar mengiringi aktivitas panen para petani.



(zik)